saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Modernisasi Pertanian dengan Alsintan

Tenaga kerja di bidang pertanian, khususnya yang langsung terjun ke sawah ternyata kian minim. Hasil survei, tenaga kerja di bidang pertanian kini didominasi orangtua yang berusia lebih dari 50 tahun.

Alasan utama regenerasi tak berjalan, karena menjadi petani bukanlah pekerjaan impian kalangan muda. Apalagi ada kesan kotor dan bau lumpur. Jadi tidak heran, pekerjaan petani makin ditinggalkan.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Soemardjo Gatot Irianto mengakui, pekerjaan menjadi petani mulai ditinggalkan kaum muda karena dianggap tidak menjanjikan. “Lambat-laun, pekerjaan menjadi seorang petani punah dan tentu berpengaruh kepada hasil,” ujarnya diskusi dan kunjungan wartawan bertema Modernisasi Pertanian Mendukung Swasembada Pangan di Desa Dalangan, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, Solo.

Untuk mengatasi minimnya tenaga kerja, menurut Gatot, penerapan pertanian modern yang menitikberatkan kepada penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) atau mekanisasi menjadi solusi jitu yang harus diterapkan. Selain itu, dengan konsep pertanian modern dapat menjadi momentum menarik minat pemuda.

Dengan beralihnya ke mekanisasi, diharapkan dapat membayar tenaga kerja petani lebih tinggi. Saat masih menggunakan manual, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi. Misalnya untuk pengolahan tanah. Jika dikerjakan secara manual (menggunakan cangkul) biaya yang diperlukan hampir Rp 2,5 juta/ha dengan jumlah tenaga kerja 30-40 orang/ha.

Padahal jika menggunakan traktor tangan, paling tinggi Rp 1,2 juta/ha dengan jumlah tenaga kerja hanya 2 orang. Artinya, dengan biaya yang lebih rendah, bisa dialihkan untuk membayar upah tenaga kerja lebih tinggi. Intinya modernisasi membuat usaha pertanian lebih efisiensi, produktif, berdaya saing, pendapatan tinggi dan meningkatkan nilai tambah.

Peluang pengembangan mekanisasi pertanian, bukan sebatas kondisi tenaga kerja di bidang pertanian yang makin berkurang, tapi ada faktor lainnya. Alsintan memiliki keunggulan secara teknis maupun ekonomis. Selain itu, kemampuan industri dalam negeri memproduksi alsintan yang bermutu juga kian berkembang, adanya dukungan pemerintah dalam pengembangan alsintan, dan tersedianya perangkat peraturan perundang-undangan dalam pengembangan alsintan.

Sementara itu Kasubdit Alsintan Ditjen PSP, Bustanul Arifin mengatakan, prasyarat pengembangan mekanisasi pertanian adalah pendataan penyebaran alsintan secara akurat, adanya fasilitas penyediaan alsintan, konsolidasi lahan pertanian, kemudahan akses perbankan.

Selain itu, dukungan kebijakan industri alsintan, perdagangan alsintan, dan dukungan terhadap pengawasan, peredaran, serta penyuluhan alsintan. “Biasanya untuk fasilitas penyediaan alsintan ini dapat melalui bantuan dari pemerintah pusat/daerah, optimalisasi kinerja UPJA (Usaha Pelayanan Jasa Alsintan), fasilitas perbengkelan dan ketersediaan suku cadang dengan harga yang terjangkau,” tuturnya.

 

Pemberdayaan UPJA

Untuk optimalisasi pengelolaan alsintan, pemerintah sejak lama telah membangun UPJA. UPJA merupakan kelembagaan yang berperan dalam mengoptimalkan penggunaan alsintan. Fungsi utama dari UPJA adalah melakukan kegiatan ekonomi dalam bentuk pelayanan jasa alsintan dalam rangka meningkatkan nilai tambah, perluasan pasar, daya saing, dan perbaikan kesejahteraan petani.

Kegiatannya adalah penanganan budidaya seperti jasa penyiapan lahan dan pengolahan lahan, pemberian air irigasi, penanaman, pemeliharaan, perlindungan tanaman, maupun kegiatan panen, pascapanen dan pengolahan hasil pertanian seperti jasa pemanenan, perontokan, pengeringan dan penggilingan padi, temasuk pula mengembangkan produk.

UPJA sebenarnya sudah sejak lama ada di Indonesia, tapi baru memperlihatkan taringnya sejak dikeluarkan Permentan No.25/2008 tentang Pedoman Penumbuhan dan Pengembangan Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian. Dengan Permentan ini, Pemerintah Daerah diberi mandat membina dan memfasilitasi UPJA yang terdapat didaerahnya. Dengan demikian, UPJA menjadi lembaga yang profesional.

Pendayaan alsintan melalui UPJA sudah dimulai sejak tahun 1996 yang diawali dengan membentuk percontohan di 13 provinsi. Sayangnya belum berkembang sesuai harapan. Seiring waktu, jumlah lembaga UPJA semakin bertambah dan mulai ditata kembali. Sehingga akan muncul UPJA yang profesional dalam menjalankan sistem kegiatan ekonominya.

Direktur Alsintan Ditjen PSP, Suprapti mengatakan, ke depan pemerintah akan memberdayakan UPJA agar pengelolaan alsintan dapat dikelola secara komersial. “Kita sudah mempunyai pedoman umum pengelolaan alsintan melalui UPJA dengan memberdayakan kelompok tani. Jika ada yang kinerjanya tidak maksimal akan disatukan pengelolaan oleh Gapoktan,” katanya.

Bahkan ungkap Suprapti, Kementerian Pertanian dan Kementerian Perindustrian telah berkoordinasi untuk memperluas peran UPJA menjadi Alsintan Center. Untuk uji coba telah direncanakan di Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan. “Alsintan center ini nantinya akan memback up pengelolaan alsintan di lapangan hingga pelatihan kepada petani dalam menggunakan alsintan,” ujarnya. (Tabloid Sinar Tani, 15 Agustus 2015)

Fri, 2 Mar 2018 @15:41


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved