saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Pengembangan Komoditas Kopi Rakyat Agar Berdaya Saing

Tren membaiknya pasar kopi di dalam maupun di manca negara tentu saja tak hanya dipertahankan, tapi harus dikembangkan. Karena itu, Direktorat Jenderal Ditjen Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian (Kementan) beserta stakeholder sepakat mengembangkan kopi sesuai dengan agroklimat daerah masing-masing.

Menurut Direktur Jenderal Pekebunan (Ditjenbun) Kementan, Bambang, potensi kopi di tanah air sangat prospektif dikembangkan. Sebab, potensi pasarnya masih cukup luas. Tercatat, dari produksi pada tahun 2017 sebanyak 668,68 ton, sebanyak 69,9% atau senilai US$ 1,19 miliar untuk kebutuhan ekspor. Sedangkan sisanya untuk kebutuhan dalam negeri.

Bahkan, dari sisi volume ekspor kopi ke sejumlah negara dari tahun 2016 sampai tahun 2017 mengalami peningkatan sebanyak 467,79 ton. Sedangkan negara tujuan ekspor adalah USA, Malaysia, Jepang, India, Mesir, Inggris, Belgia, Italia, dan Rusia. Umumnya, kopi yang diekspor dalam berupa biji kopi robusta dan arabika. Dari luas areal kopi sebanyak 1.246.657 ha ini sebanyak 73% berupa kopi robusta dan 27% kopi arabika.

Lahan kopi yang relatif cukup luas tersebut, produksinya sebanyak 663.781 ton/tahun. Sedangkan produktivitas kopi yang ditanam petani relatif rendah, rata-rata sekitar 714 kg/ha. Produktivitas kopi di tanah air ini masih jauh dibanding kopi manca negara. Bahkan, posisi kopi Indonesia saat ini berada peringkat empat dunia setelah Brazil, Vietnam dan Kolombia.

Data Ditjenbun Kementan menyebutkan, luas areal kopi Brazil tercatat hampir 2 juta ha dengan produktivtas 1,4 ton/ha. Sedangkan luas areal kopi di Vietnam 589 ribu ha dengan produktivitas 2,3 ton/ha , dan Kolombia luas 795 ribu ha dengan produktivitas 0,9 ton/ha. 

“Selain produktivitas kopi di tanah air masih rendah, dari lahan kopi yang ada sebanyak 96% adalah lahan kopi rakyat (perkebunan rakyat). Rata-rata kepemilikan lahan meraka 0,6 ha,” kata Bambang, di Jakarta, belum lama ini.

Mengapa produktivitas kopi di perkebunan rakyat rendah? Menurut Bambang, salah satunya penyebabnya adalah banyaknya tanaman yang sudah tua/rusak. Selain itu, masih banyak petani yang belum menggunakan benih unggul.

“Biasanya para petani itu tanam kopi tapi enggan merawatnya. Faktor lainnya yang menjadi penyebab rendahnya produktivita skopi petani adalah serangan hama penyakit,” papar Bambang.

Rendahnya diseminasi teknologi, yang disebabkan terbatasnya penyuluh di tingkat petani juga menjadi faktor mengapa produktivitas kopi rakyat rendah. Penanganan pasca panen yang kurang tepat juga berpengaruh terhadap kualitas biji kopi yang dihasilkan.

Tentunya, dengan banyaknya penyebab rendahnya produktivitas kopi rakyat ini tidak menjadikan para pemangku kepentingan menyerah. Justru sebaliknya, pemerintah bersama pemangku kepentingan lainnya bersama-sama petani membangkitkan gairah petani untuk mengembangkan dan mengelola kopi di sektor hulu lebih baik lagi agar kopi rakyat berdaya saing.

 

Komoditas Kopi Rakyat Berkelanjutan

Guna mendongkrak produksi kopi rakyat Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Ditjen Perkebunan (Ditjenbun) segera mensinergikan seluruh potensi sumberdaya tanaman kopi dalam rangka peningkatan daya saing usaha, nilai tambah, produktivitas dan mutu produk. Langkah yang dilakukan diantaranya, dengan partisipasi aktif para pemangku kepentingan.

Pada tahun 2018, Ditjen Perkebunan Kementan akan mengembangkan kawasan kopi nasional di 16 provinsi. Diantaranya, Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Papua. Guna meningkatkan produksi dan produktivitas kopi rakyat, Ditjenbun Kementan akan melakukan peremajaan terhadap tanaman yang sudah tua, menambah areal tanaman kopi yang baru melalui perluasan lahan, dan merehabilitasi atau mengoptimalisai tanaman yang masih produktif. Ditjenbun Kementan juga mendorong petani menerapkan Good Agricultural Practices (GAP) dan mengaplikasi teknik budidaya yang baik.

Menurut Bambang, pada tahun 2018 Ditjenbun Kementan akan mengembangkan kopi di lahan seluas 16.400 ha. Kegiatan pengembangan kopi diantaranya, rehabilitasi kopi robusta di 1 provinsi 2 kabupaten seluas 410 ha, intensifikasi kopi arabika di 8 provinsi 14 kabupaten di lahan seluas 2.740 ha.

Ditjen Perkebunan pada tahun 2018 juga melakukan perluasan kopi arabika di 6 provinsi/127 kabupaten seluas 2.950 ha, dan perluasan kopi robusta di 1 provinsi/1 kabupaten seluas 100 ha. “Kita juga akan melakukan peremajaan kopi robusta di 2 provinsi/3 kab seluas 1.180 ha dan peremajaan kopi arabika di 6 provinsi/ 19 kabupaten seluas 5.970 ha,” kata Bambang.

Kopi yang dikembangkan di sejumlah sentra kopi ini dilakukan dengan memanfaatkan benih/bibit kopi benih unggul. Hal ini dilakukan agar produktivitas kopi yang ditanam petani bisa meningkat. Seperti varietas arabika komasti, yang potensi produksinya rata-rata 2,1 ton/ha. Begitu juga dengan varietas s 995 yang potensi produksinya 1,5 ton/ha, varietas gayo 1 (1,5 ton/ha), varietas gayo 2 (1,3 ton/ha), varietas sigarar utang (2 ton/ha), dan varietas andungsari 1 (2.5 ton/ha).

Guna mengembangkan potensi di sejumlah sentra kopi nasional juga perlu dukungan ketersediaan benih, Ditjenbun Kementan juga menggandeng sejumlah produsen benih/penangkar dan balai benih di sejumlah daerah. Data Ditjenbun Kementan menyebutkan, sudah sebanyak 47.510 pohon induk terpilih (PIT) yang sudah dikembangkan di 8 provinsi dengan potensi produksi benih sebanyak 45.157.656 butir/tahun. Seperti di Aceh, sejumlah petani/penangkar sudah menyiapkan bibit kopi gayo 1 dan gayo 2 di lahan seluas 4 ha dengan 5.349 PIT, yang potensi produksinya sebanyak 22.186.100 butir/tahun.

Selain mendongkrak produktivitas kopi dengan benih unggul, Ditjenbun Kementan juga mengembangkan SDM melalui sejumlah pelatihan. Seperti pelatihan perbenihan, budidaya, panen, dan pasca panen kepada petani kopi. Selain itu, petani juga diberi pelatihan menejerial (penumbuhan kebersamaan, pembentukan kelembagaan, penguatan dan pemberdayaan).

Sedangkan pendamping/penyuluh juga diberikan bimbingan teknis terkait dengan Good Agricultural Prcatices/GAP, Good Handling Practices/GHP, standarisasi mutu). Diharapkan, dengan adanya pelatihan kepada petani dan penyuluh yang ada di lapangan bisa mempermudah pengembangan budidaya kopi dari hulu hingga hilir.

Menurut Bambang, agar petani yang sudah melakukan budidaya kopi dengan baik, berkelanjutan dan berdaya saing perlu dilakukan penguatan kelembagaan petaninya. Salah satunya dengan mengkorporasi para pekebun yang sudah membentuk kelompok.

Selanjutnya, antar kelompok yang sudah membentuk korporasi ini bisa menjalin kemitraan usaha hulu hingga hilir. Apabila petani sudah membentuk kelompok seperti dalam bentuk lembaga ekonomi masyarakat (LEM) sejahtera , akan memudahkan petani dalam mendapatkan kredit dari perbankan. Bahkan, investasi di bidang pekebunan kopi pun akan lebih mudah. (Humas Ditjen Perkebunan Kementan)

 

Perbaikan Kualitas Pasca Panen

Petani kopi setelah melakukan budidaya dengan baik dan produksinya meningkat masih perlu dukungan pemerintah di sektor hilir. Nah, salah satu hilirisasi budiaya kopi adalah mendorong petani untuk memperbaki kualitas pasca panennya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Prov.Bali, Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan,apabila kualitas pasca panennya lebih baik lagi, petani bisa mendapatkan nilai tambah hingga tiga kali lipat. Apabila, saat ini petani lebih banyak menjual dalam bentuk gelondongan (biji), ke depan mereka didorong agar lebih intensif mengembangkan pasca panennya, khususnya pengolahannya.

Nah, agar petani mendapat nilai tambah, Pemprov Bali melakukan pendampingan terkait dengan pasca panennya. “Tahun lalu kami fokus ke tiga hal, yakni peremajaan, perluasan, dan intensifikasi terhadap sejumlah komoditas perkebunan. Sedangkan tahun 2018 kita akan mulai masuk ke pasca panennya,” ujarnya.

Sentra kopi arabika di Bali yang akan didorong pengembangan pengolahan kopi adalah di Kabupaten Badung, Bangli dan Buleleng. Komoditas kopi arabika di Badung yang sudah mendapat sertifikat indikasi geografis (IG) dari Kementerian Hukum dan Ham, supaya dipertahankan budidayanya dengan baik dan dijaga keberlanjutannya. Serifikasi IG ini tentunya bisa dijadikan modal bagi petani kopi arabika Badung untuk melakukan penetrasi pasar dan peningkatan kualitas pasca panen bernilai tambah. (Tabloid Sinar Tani/Humas Ditjenbun)

Mon, 9 Jul 2018 @12:51


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved