saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Modernisasi Pertanian untuk Sejahterakan Petani

image

Mentan, Amran Sulaiman mengatakan, modernisasi pertanian mutlak dilakukan untuk menjadikan Indonesia negara yang kuat berbasis pertanian. Hingga kini Kementerian Pertanian telah menggelontorkan ribuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ke seluruh pelosok Tanah Air. “Ini merupakan pertama dalam sejarah dan menjadi rekor terbanyak sepanjang sejarah pertanian Indonesia,” tegas Amran.

Sejak tahun 2015, Kementan telah memberikan bantuan alat dan mesin pertanian dalam jumlah yang cukup besar. Pada tahun 2010-2014 jumlah bantuan alsintan yang dibagikan tidak lebih dari 50.000 unit. Namun pada tahun 2015–2017 jumlah bantuan alsintan berbagai jenis yang dibagikan pemerintah kepada petani masing-masing berjumlah 157.493 unit, 110.487 unit, dan 321.000 unit atau naik lebih dari 600%. “Demikian juga pada tahun 2019, bantuan alsintan tetap akan diberikan kepada petani,” katanya.

 

Serba Hemat

Amran menilai, modernisasi pertanian melalui penggunaan alsintan dari aspek ekonomi secara signifikan terbukti mampu meningkatkan produktivitas komoditas pangan dan pendapatan keluarga petani, sehingga proses produksi beras bisa lebih efisien. Melalui penggunaan alsintan pada setiap tahap kegiatan produksi, panen dan pasca panen mampu menghemat biaya pengolahan tanah, tanam, penyiangan dan panen. Sebab, sebagian besar tenaga kerja sudah diganti oleh penggunaan alsintan yang jauh lebih efisien.

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian, I Ketut Kariyasa menjelaskan, penggunaan traktor roda-2 dan roda-4, mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang/ha dan biaya pengolahan tanah menurun sekitar 28%. Sedangkan, penggunaan rice transplanter mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang/ha menjadi 7 orang/ha, sehingga biaya tanam menurun hingga 35%, serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha.

Penggunaan combined harvester juga mampu menghemat tenaga kerja dari 40 orang/ha menjadi 7,5 orang/ha dan menekan biaya panen hingga 30%. Bahkan menekan kehilangan hasil dari 10,2% menjadi 2%, serta menghemat waktu panen menjadi 4 sampai 6 jam/ha.

Ketut mengungkapkan, berdasarkan perhitungan sederhana, penggunaan alsintan mulai dari olah sawah hingga panen dapat menekan biaya produksi padi sebesar 6,5% dan meningkatkan produksi sebesar 33,8%. Jika sebelumnya hanya 6 ton menjadi 8,1 ton GKP/ha.

Masing-masing bersumber dari penurunan kehilangan hasil sebesar 10,9% karena menggunakan combine harvester, peningkatan produktivitas 11,0% akibat penggunaan transplanter yang mendorong petani menerapkan sistem tanam jajar legowo (jarwo), dan peningkatan produktivitas 11,9% akibat penggunaan input lainnya yang membaik. “Artinya mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani mencapai 80%, dari Rp 10,2 juta menjadi Rp 18,6 juta/ha/musim,” ungkapnya.

Disamping itu, lanjut Ketut, modernisasi pertanian juga mendorong minat masyarakat, khususnya generasi muda terhadap dunia pertanian. Pendapatan yang diperoleh sebagai petani pun tidak kalah menariknya, bahkan lebih besar dari upah atau gaji dari seseorang yang bekerja pada sektor non pertanian. “Pada kondisi seperti ini, tanpa perlu didorong, petani dengan sendirinya akan terus bersemangat untuk berproduksi,” kata Ketut.

 

Pengawalan Bantuan

Seiring upaya mengubah pertanian Indonesia lebih modern, pemerintah telah menggelontorkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada petani cukup banyak. Dengan alsintan diharapkan pekerjaan petani menjadi lebih efisien, baik segi waktu, tenaga dan biaya.

Dengan banyaknya bantuan alsintan tersebut, tentu harus ada pengawalan dari pusat atau daerah. Apalagi dalam pelaksanaannya, ternyata ada beberapa kasus bantuan tersebut diberikan bukan kepada kelompok tani, melainkan petani perorangan. Hal itu menyebabkan pemanfaatan alsintan menjadi tidak optimal. Padahal seharusnya alsintan diberikan kepada kelompok tani, sehingga petani yang memanfaatkan lebih banyak.

“Jadi ada beberapa bantuan yang diberikan kepada petani perorangan (milik pribadi), sehingga ketika tidak dipakai menganggur. Padahal seharusnya didistribusikan ke petani lainnya. Makanya sekarang bantuan alsintan harus diberikan ke kelompok tani,” kata Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian, Andriko Noto Susanto beberapa waktu lalu.(Tabloid Sinar Tani/Cla/Yul/Ditjen PSP) 

Tue, 31 Jul 2018 @17:12


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved