saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Shadam Hikaruz 0877-7922-2022
KUNINGAN Septian 085295591920
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Nilai Tambah untuk Petani

Itu yang membuat harga jual produk pertanian cenderung rendah, sementara ketika membeli berbagai sarana produksi pertanian cenderung mahal. Selain itu, petani selama ini juga dikenal sebagai pelaku usaha yang tidak mampu memberi nilai tambah pada produk hasil usaha taninya. Mereka hanya menanam, memelihara, memanen kemudian menjual hasil panennya. Para petani padi menjual hasil panen berupa gabah, petani sayur menjual sayur segar, petani mangga menjual buah mangga yang sudah cukup tua, dan seterusnya. Artinya, para petani menjual hasil panen tanpa ada sentuhan nilai tambah sama sekali.

Apa itu nilai tambah? Nilai tambah adalah nilai yang ditambahkan oleh produsen terhadap bahan baku atau pembelian (selain tenaga kerja) sebelum menjual produk atau jasa yang baru atau yang diperbaharui. Ada juga yang memberi pengertian bahwa nilai tambah (value added) adalah suatu komoditas yang bertambah nilainya karena melalui proses pengolahan, pengangkutan ataupun penyimpanan dalam suatu produksi. Definisi spesifik nilai tambah adalah selisih lebih antara nilai produk dengan nilai biaya input, tidak termasuk upah tenaga kerja. Dari pengertian tersebut, bahan baku yang telah mengalami perubahan nilai karena mengalami pengolahan dapat diperkirakan seberapa besar nilainya. Secara ekonomis, peningkatan nilai tambah suatu barang dapat dilakukan melalui perubahan bentuk (form utility), perubahan tempat (place utility), perubahan waktu (time utility), dan perubahan kepemilikan (potition utility).

Dengan pengertian tersebut, kita bisa melihat sebenarnya banyak potensi nilai tambah yang seharusnya menjadi ‘hak’ petani namun belum dapat sepenuhnya mereka dapatkan. Nilai tambah, yang sebenarnya bisa menjadi sumber keuntungan besar justru dilepas dan diserahkan pihak lain. Contoh paling mudah bisa dilihat pada para petani padi. Kalau saja mereka mau memberi sentuhan nilai tambah berupa bentuk (form utility) dari gabah menjadi beras, maka mereka akan mendapat tambahan pendapatan cukup besar dari setiap kilogram hasil panen. Sayangnya, nilai tambah itu justru diserahkan pada para tengkulak atau pemilik ‘rice mill’ yang hanya bermodal mesin dan alat pengering padi.

Oleh karena itu, sudah seharusnya semua pihak yang memiliki kepedulian pada nasib petani juga memperhatikan upaya meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan petani. Upaya meningkatkan produksi memang penting, namun memberi nilai tambah juga merupakan langkah penting, terutama untuk memberi tambahan pendapatan pada para petani. Agar nilai tambah itu bisa diperoleh lebih optimal maka tidak ada salahnya bila para petani bergabung dalam sebuah wadah atau kelompok. Dengan berkelompok mereka memiliki posisi tawar lebih kuat sehingga upaya memberi nilai tambah akan memberi keuntungan lebih besar. Ketika para petani padi bergabung dalam kelompok, maka mereka bisa membuat ‘rice mill’ sendiri, mengemas beras, kemudian menjual langsung pada konsumen. Nilai tambah yang diperoleh tentu akan semakin tinggi bila mereka dapat memberi sentuhan inovasi pada produknya. (Tabloid Sinar Tani/Bangun Triharyanto)

Tue, 4 Sep 2018 @13:40


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved