saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Jawa Barat, Berpacu Mengejar Target LTT

Sebagai salah satu sentra produksi pangan, Provinsi Jawa Barat mengemban berat untuk bisa mempertahankan produksi. Apalagi dalam kondisi musim kemarau yang menyebabkan banyak lahan sawah yang terkena kekeringan.

 

Data Ditjen Tanaman Pangan, lahan tanaman pangan yang puso akibat kekeringan di Jawa Barat selama musim kemarau ini mencapai 1.819 ha. Bahkan ada sekitar 600 ha tanaman padi di Kecamatan Kandanghaur, Losarang dan Gabuswetan, Kabupaten Indramayu yang puso. “Biasanya menjelang panen modal petani sudah habis. Ini menjelang panen malah puso,” kata Ketua Penanggungjawab Upsus Pajale Jawa Barat, Banun Harpini.

Namun menurutnya jika dibandingkan dengan standing crop yang ada seluas 805.699 ha (padi 731.958 ha, jagung 35.603 ha, kedelai 38.138 ha), maka jumlah yang puso masih relatif kecil. Bahkan masih ada sekitar 117.301 ha lahan yang tersisa yang harus ditanami.

“Jika kita hitung menghitung persentasenya, puso 1.819 ha dibandingkan 805.699 ha standing crop, lalu dikali 100%, maka puso di Jabar hanya 0,225%. Kami menganggap dalam musim kemarau yang seperti ini, dengan puso 0,225% itu masih sangat wajar,” katanya.

Karena itu Banun yang kini masih menjabat Kepala Badan Karantina Pertanian ini menganggap, saat ini yang terpenting adalah bagaimana cara mempertahankan standing crop yang ada agar petani tetap bisa panen. “Jadi selain menggerakkan luas tambah tanam, kita berupaya mempertahankan standing crop. Karena itu pendapatan utama petani,” katanya.

Jawa Barat mendapat Luas Tambah Tanam (LTT) tahun 2018 sebesar 131.814 ha dari sebelumnya 96.499 ha pada 2017. Namun pada 2018, Jabar memiliki potensi 564.492 ha. Namun dalam evaluasi Agustus, Jabar mendapat angka merah, karena LTT hingga Agustus hanya 101.475 ha atau kurang 15.972 ha dari periode 2017 yaitu 117.447.

Target luas tanam Jabar Oktober 2017-Agustus 2018 adalah 2.036.401 ha. Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, luasan tersebut naik 53.858 ha. Luasan tersebut merupakan angka tertinggi di Pulau Jawa. Produktivitas padi di Jabar pada ARAM I sebesar 6,11 ton/ ha, jagung 7,47 ton/ ha, kedelai 1,615/ ha. “Itu semua tertinggi produktivitas secara nasional,” kata Banun.

Dibandingkan wilayah lain Banun mengakui, Jawa Barat memang mendapat target tinggi. Namun selama perjalanan, ternyata terkendala kemarau dan lokasi irigasi yang menjadi tempat latihan salah satu cabang olahraga Asian Games. “Ini yang akan kita kompensasi, kita masukkan minus itu ke target September. Tapi ini juga semua masih tergantung dengan air. BMKG meramalkan Jabar baru mulai hujan pada Oktober mendatang,” tutur Banun.

 

Terapkan Teknologi

Untuk meminimalisasi dampak kekeringan dan mencapai target tersebut, Tim Upsus pajale Jabar melakukan upaya meminimalisasi dampak kekeringan dengan teknologi Patbo, normalisasi aliran irigasi, memberikan penyuluhan kepada petani agar tidak menanam padi jika memungkinkan dan mengganti dengan jagung atau kedelai. Selain itu dengan memitigasi pengamanan standing crop yang sudah ada. “Saat kemarau ini, Tim Upsus bersama BPTP Jabar menggalakkan Patbo,” kata Banun.

Untuk menerapkan teknologi tersebut, petani telah dihimbau menggunakan benih unggul yang tahan kekeringan, mengolah jeraminya sebagai bahan organik ditambah mikroorganisme tertentu, sehingga dalam budidaya padi tidak memerlukan banyak air dan tetap bertahan saat kekeringan. “Ini sudah diujicobakan di Majalengka dan Subang. Produktivitasnya bisa naik 2 ton/ ha dan hemat air hingga 60%, tanah juga lebih sehat,” kata Banun.

Menurut Banun, lahan yang terkena puso umumnya karena petani memaksakan untuk tanam padi, karena melihat kondisi harga gabah cukup tinggi. Sementara di sisi lain, petani tidak memperkirakan apakah tanamannya bisa bertahan atau tidak, bisa panen atau tidak.

Bahkan masa tanamnya tidak serempak yang mengakibatkan riskan serangan OPT. Jadi seharusnya tanam serempak per golongan air. Terlebih sebagian besar yang ditanam masih varietas ciherang. “Sekarang ini kita sedang mengidentifikasi per kecamatan, per desa yang masih ada sumber airnya dengan teknologi Patbo. Kita bantu benih unggul yang tahan kekeringan,” kata Banun.

Jika teknologi Patbo tersebut dilaksanakan dengan baik, maka Banun berharap produktivitasnya bisa mencapai 10 ton/ ha seperti di Desa Pasirtanjung, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang. Meski harus mengejar target LTT, Banun mengatakan, pihaknya tetap memprioritaskan dan mendasarkan pada kesejahteraan petani.

“Pada musim kemarau ini, kami tim UPSUS Jabar berusaha untuk bisa bagaimana terus menerus mengintroduksi teknologi, baik teknologi yang hemat air atau pun yang lainnya,” kata Banun. (Tabloid Sinar Tani/Tia/Yul/Ditjen PSP)

Fri, 21 Sep 2018 @14:54


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved