saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Shadam Hikaruz 0877-7922-2022
KUNINGAN Septian 085295591920
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Banjir Jagung saat Musim Hujan

image

Di tengah musim hujan yang berlangsung di beberapa wilayah Indonesia, sentra pangan di Jawa dilanda banjir. Tapi banjir kali ini justru disambut gembira petani, karena yang terjadi adalah banjir jagung.

Panen raya jagung diperkirakan berlangsung hingga Maret 2019. Wilayah yang tengah panen yakni, Tuban, Lamongan, Ngawi, Gresik, Trenggalek, Grobogan, Blora, Trenggalek, bahkan Gunung Kidul. Saat panen raya jagung di Kabupaten Tuban, Jatim, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyaksikan banjir jagung.

Tuban merupakan kabupaten dengan luas panen jagung terbesar di Jatim yakni 50.670 ha pada Februari 2019. “Tuban saat ini banjir jagung. Luas panennya 50 ribu ha lebih. Total produksinya 400-500 ribu ton atau setengah juta ton. Ini baru Tuban produksi Februari 2019,” ujarnya saat panen di Desa Talun, Kecamatan Montong, Tuban. 

Data Dinas Pertanian Kabupaten Tuban luas tanam jagung di kabupaten yang dipimpin Bupati Fathul Huda ini mampu mencapai 113.290 ha pada 2018 dari target 109.704 ha. Bahkan untuk produksi Februari 2019 diperkirakan bisa mencapai 500 ribu ton. “Jagung Tuban nomor satu nasional. Ini harus dipertahankan,” katanya.

Wantono, salah seorang Penyuluh Pertanian sekaligus petani jagung di Kecamatan Grabakan, Tuban mengungkapkan, kabupaten ini merupakan salah satu sentra produksi jagung di Jatim. Dengan sedang berlangsungnya panen jagung, ia meminta pemerintah daerah maupun pusat agar tidak ada jagung impor masuk.

“Jika ada impor, petani kecil atau gurem sangat merasakan dampak negatifnya. Kemudian, pihak-pihak yang inginkan impor jagung, silahkan berhubungan dengan pemerintah daerah, khususnya Tuban untuk menanyakan stok jagung,” ungkapnya.

Hal senada diungkapkan Galih, Penyuluh Pertanian Kecamatan Sumanding, Tuban. Jagung yang diproduksi petani dalam negeri lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan. “Impor jagung tidak perlu. Lahan jagung yang sedang dipanen saat ini di Tuban sangat luas dengan jagung yang beragam varietas, karena petani sudah menguasai teknik budidaya,” tegasnya.

 

Incar Pasar Ekspor

Dengan banjirnya jagung, makin membuat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman optimis Indonesia mampu meningkatkan ekspor jagung dari 380 ribu ton pada 2018 menjadi 500 ribu ton tahun ini. Ekspor jagung itu nantinya juga dari sentra jagung yakni Gorontalo, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan.

Saat panen jagung di Jawa Timur, Menteri Amran mengajak petani jagung semakin giat. Pasalnya, bertambahnya target ekspor jagung merupakan sebuah peluang bagi petani.

Untuk menjaga harga jagung tetap stabil pada saat membanjirnya produksi, Menteri Pertanian Amran Sulaimen lalu membuat kesepakatan bersama antara Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah Tuban, Bulog, peternak dan petani. Kesepakatan ini bertujuan untuk mejaga stabilisasi pasokan dan harga jagung di tingkat petani dan peternak sehingga rantai distribusi terpotong menjadi efisien.

“Kesepakatan ini, kami ingin sinergikan peternak dengan petani jagung. Yang di tengahnya ada Bulog. Pemerintah hadir, sehingga dua-duanya untung. Petani untung, peternak tersenyum, juga pengusahanya untung," ujar Amran. Selain itu dilakukan transaksi jual beli jagung petani yang dibeli Bulog secara tunai sebanyak 100 ton.

Bukan hanya Bulog, Amran juga meminta pengusaha besar memanfaatkan momentum panen jagung yang sedang berlangsung di sentra produksi, seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera dan Sulawasi. “Saya dapat laporan, Sumatera, Sulawesi, Jatim dan Jateng juga sedang panen. Yang kami khawatirkan kalau panen serentak seperti ini harga jadi anjlok sehingga harga di bawah harga pokok penjualan (HPP),” katanya.

Untuk harga jagung saat ini menurut Amran bervariasi, tergantung wilayah. Di beberapa daerah harganya Rp 3.500/kg. Karena itulah, untuk menjaga harga agar tidak anjlok dan stok jagung tetap tersedia, Amran juga menghimbau pengusaha besar menyerap jagung petani sebesar-besarnya dengan harga terbaik untuk persediaan pada Oktober hingga Desember. “Kami minta pengusaha besar beli sekarang jagung petani dan disimpan. Jangan Oktober dan Desember nanti baru berteriak kekurangan jagung,” tegasnya.

Sementara itu petani jagung di Gresik, Jawa Timur berharap pemerintah membuat skema pembelian jagung sama dengan padi, seperti adanya Tim Serap Gabah Petani (Sergap). Tim tersebut akan langsung turun tangan membeli dengan harga wajar.  

Petani jagung di Desa Wotan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik menyampaikan langsung kegelisahannya kepada Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Gresik, Eko Anindito Putro dan Kepala Sub Direktorat Jagung, Direktorat Tanaman Serealia, Ditjen Tanaman Pangan, Andi Saleh.

Kadistan Gresik Eko Anindito menyampaikan pihaknya pernah mengadakan kerjasama dengan perusahaan pabrik pakan ternak. Awalnya berjalan lancar, namun kemudian menurut perusahaan tersebut ada kendala terkait kualitas jagung yang menurun akhirnya jagung dikembalikan.

“Mohon ada skema untuk menjembatani kemitraan petani dengan perusahaan pabrik pakan yang saling menguntungkan. Semoga ada serap jagung di Gresik supaya saat harga jagung turun tetap bisa diserap dengan harga Rp 3.500/kg dengan kadar air 14%. Karena petani disini bingung saat harga jagung merosot,” tuturnya.

Ini menjadi tugas pemerintah untuk menjaga agar harga jagung petani tidak terjun bebas.Tabloid Sinar Tani/Tiara/Yul/Ditjen PSP

Wed, 27 Feb 2019 @13:34


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved