saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Shadam Hikaruz 0877-7922-2022
KUNINGAN Septian 085295591920
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Strategi Jitu Stabilnya Produksi Padi

image

Ada gerakan yang berbeda ketika melihat program Kementerian Pertanian dalam mengamankan produksi pangan, khususnya padi, dalam empat tahun terakhir ini (2015-2018). Apalagi yang dituju pemerintah kini bukan lagi sekadar swasembada pangan, tapi Lumbung Pangan Dunia 2045.

Misi besar yang diemban tersebut mengharuskan semua pelaku usaha, termasuk karyawan Kementerian Pertanian mempunyai visi yang sama. Dengan dipayungi tagline besar dari Presiden RI, Joko Widodo yakni, kerja, kerja dan kerja, secara perlahan dan pasti peningkatan produksi padi terus bergerak naik.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jika tahun 2014 produksi padi masih sebanyak 70,846 juta ton gabah kering giling (GKG), maka tahun 2018 telah menembus angka 83,037 juta ton GKG. Artinya dalam empat tahun ada kenaikan cukup signifikan dalam produksi padi yakni hampir 13,3 juta ton GKG.

Padahal dalam perjalanan empat tahun tersebut, bukan hal yang mudah. Berbagai tantangan kerap mengganjal upaya peningkatan produksi. Sebut saja, gangguan iklim yang makin sulit diprediksi. Banjir, kekeringan dan serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) tiap tahun selalu menghantui petani.

Belum lagi ancaman konversi lahan yang terus menggerus lahan pertanian, khususnya di Pulau Jawa. Diperkirakan tiap tahun lahan pertanian yang berubah fungsi ke non pertanian mencapai 100 ribu hektar (ha) pertahun. Terbitnya Undang-undang (UU) Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan yang mengharuskan pemerintah daerah membuat Perda Perlindungan Lahan Pertanian juga belum berjalan baik.

 

Perbaikan Infrastruktur

Pertanyaan mengapa di tengah berbagai ancaman dan kendala, produksi padi tetap berjalan on the track. Ternyata ada strategi dan gerakan di balik layar yang mampu menjaga peningkatan produksi padi.

Jika kita cermati, maka ada beberapa strategi dijalankan. Di awal kepemimpinan Andi Amran Sulaiman di Kementerian Pertanian, membenahi kondisi infrastruktur pertanian. Salah satu yang menjadi pusat perhatian adalah jaringan irigasi. Diperkirakan hampir 30 tahun, jaringan irigasi minim sentuhan perbaikan, sehingga yang mengalami kerusakan hampir 53%.

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy mengatakan, program Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) selama periode 2014-2019 dilakukan untuk membangun, bahkan merehabilitasi jaringan irigasi tersier yang kondisinya 50 persen rusak.

Selama lima tahun, jaringan irigasi yang telah terbangun yang dapat mengairi lahan sawah seluas 3,129 juta ha. Dengan perbaikan irigasi dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) 0,5. Dampaknya pada peningkatan produksi sebanyak 8,21 juta ton.

“Program RJIT dan berbagai sarana air lainnya sangat dirasakan manfaatnya oleh petani. Salah satunya penambahan indeks pertanaman yang dari 1 kali setahun menjadi 2 kali bahkan lebih dan produktivitas juga meningkat 1-1,5 ton/ha,” tutur Sarwo Edhy. Karena itu, Ditjen PSP mendorong pemerintah daerah untuk ‘melek’ kebutuhan rehabilitasi jaringan irigasi di kawasan sentra pertaniannya. Bahkan memberikan bantuan dalam bentuk swakelola oleh masyarakat.

Infrastruktur lainnya yang Kementerian Pertanian lakukan adalah membangun embung. Hingga kini yang telah terbangun sebanyak 2.962 unit. Estimasi luas layanan dari embung, dam parit, long storage seluas 25 ha mampu memberikan dampak pertanaman seluas 73.850 ha. Dampak kegiatan ini, terjadi kenaikan IP 0,5 yang berimbas pada penambahan luas tanam 36.930 ha dan penambahan produksi 384.020 ton.

 

Optimalisasi Lahan

Masih dalam upaya memperbaiki infrastruktur pertanian, strategi lainnya adalah optimalisasi lahan. Kebijakan out of the box yang Amran Sulaiman ambil adalah Luas Tambah Tanam (LTT). Dengan kebijakan itu, Kementerian Pertanian mencoba menghapus stigma musim paceklik.

Selama ini dalam produksi padi dikenal musim panen raya dan paceklik. Jika digambarkan dalam sebuah grafik, maka pada periode Januari-September merupakan masa panen padi (panen musim rendeng dan gadu). Kemudian periode September-Desember merupakan musim paceklik, karena petani baru memasuki musim tanam.

Stigma itulah yang coba dihilangkan dengan program LTT. Dengan berbagai kalkulasi dan kemungkinan lahan yang bisa dioptimalkan, ditetapkan tiap bulan, termasuk bulan paceklik harus ada luas tanam paling tidak 1 juta ha. Sebaran LTT sebesar 1 juta ha itu, kemudian didistribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia.

Jika produktivitas tanaman padi 5-6 ton GKG/ha, maka saat bulan paceklik tetap ada produksi sebanyak 5-6 juta ton GKG. Dengan produksi sebanyak itu, kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia sekitar 2,5-2,6 juta ton/bulan bisa tertutupi. Apalagi pasokan beras tersebut akan ditambah produksi saat panen rendeng yang luasnya di atas 1 juta ha.

Dalam program LTT tersebut, bukan hanya lahan padi sawah yang digenjot pertanamannya hingga IP 3. Kementerian Pertanian juga mendorong peningkatan IP di lahan-lahan sub optimal, baik lahan tadah hujan maupun rawa lebak. Optimalisasi lahan tersebut juga didukung dengan teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Dari mulai benih unggul yang cocok untuk lahan sub optimal maupun inovasi alat mesin pertanian.

Salah satu program optimalisasi lahan yang kini pemerintah dorong adalah lahan rawa. Potensi lahan sub optimal tersebut di Indonesia ibarat raksasa yang tertidur. Bayangkan saja, dengan potensi yang cukup luas, selama ini lahan tersebut tak tergarap optimal untuk pengembangan pertanian.

Melalui sarana dan prasarana yang tepat, lahan rawa yang tadinya hanya bisa ditanami satu kali, kini bisa menjadi dua kali, bahkan lebih. Data Kementerian Pertanian setidaknya ada 34,1 juta ha potensi lahan rawa di Indonesia, dengan 9,2 juta ha dapat dimanfaatkan untuk pertanian sawah dan hortikultura. Tahun ini pemerintah menargetkan sekitar 500 ribu ha pengembangan lahan rawa.

Berbagai dukungan lain dalam peningkatan produksi padi pemerintah berikan ke petani, termasuk program modernisasi pertanian. Alhasil hingga kini, produksi padi pun relatif stabil.(Tabloid Sinar Tani/Yul/Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian)

 

Produksi Padi Meningkat Lima Tahun Terakhir

Komoditas

Tahun

2014

2015

2016

2017

2018

2019 (Target)

Produksi GKG

(juta ton)

70,846

75,398

79,355

81,149

83,037

84,000

Luas Panen

(juta hektar )

13,797

14,117

15,156

15,712

15,995

16,154

Produktivitas (ton/ha)

5,135

5,341

5,236

5,165

5,192

5,200

Tue, 2 Jul 2019 @14:31


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved