saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Shadam Hikaruz 0877-7922-2022
KUNINGAN Septian 085295591920
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Kolaborasi Pemerintah Pusat dan Daerah Tingkatkan Produksi Padi

image

Keberhasilan meningkatkan produksi padi tak lepas dari dukungan dan kerjasama pemerintah di daerah dalam mengimplementasikan program pemerintah pusat. Begitu juga sebaliknya, keberhasilan pembangunan pertanian di daerah, seperti di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur untuk meningkatkan produksi padi tak lepas dari dukungan pemerintah pusat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi, Marsudi mengakui, kolaborasi dan kerjasama antara pemerintah pusat dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ngawi dalam mengimplementasikan setiap program peningkatan produksi padi melalui program luas tambah tanam (LTT) maupun mekanisasi pertanian akhirnya mampu mendorong peningkatan produksi padi di Kab. Ngawi.

Selain melalui program LTT dan mekanisasi pertanian, beberapa bantuan pemerintah seperti bantuan pupuk (bersubsidi) dan benih yang diberikan ke petani juga menjadi faktor pendorong meningkatkan produksi padi di Kab. Ngawi. “Produktivitas padi yang ditanam di Ngawi saat ini rata-rata sebanyak 8 ton/ha (GKP). Bahkan, pada musim tanam (MT I) tahun ini di sejumlah kecamatan ada yang produktivitasnya mencapai 10 ton/ha (GKP),” katanya.

Marsudi mengatakan, lahan baku sawah di Kab. Ngawi saat ini seluas 50.197 ha. Target luas tambah tanam pada tahun 2017 lalu sebanyak 85.392 ha. Dari target luas tambah tanam (LTT) tersebut sampai akhir tahun 2017 lalu sudah tercapai. Bahkan, pada tahun 2018, dari target LTT sebanyak 133.438 ha, sampai akhir tahun 2018 sudah tercapai sebanyak 134.507 ha. “Bertambahnya LTT pada tahun 2018 juga berdampak signifikan terhadap peningkatan produksi padi petani,” ujar Marsudi.

Menurut Marsudi, awal Juni tahun 2019 sejumlah sawah di Ngawi sudah mulai panen. Bahkan, jelang akhir Juni 2019 sudah panen raya. “Kalau di Ngawi ini IP sudah 2,7. Karena itu, di Ngawi bagian tengah seperti di Kecamatan Karangjati, Geneng, Pangkur, Padas, Paron, Kedunggalar, Mantingan bisa tanam 3 kali/tahun,” papar Marsudi.

Ia mengatakan, dari lahan baku di Ngawi pada MT I (November/Desember tanam dan Januari/Februari panen,red) dan MT II (Maret/April tanam dan Juni/Juli panen) bisa tanam 3 kali atau 100%. Namun, pada musim kemarau (MK, Juli/Agustus) yang bisa tanam 3 kali hanya sekitar 60%. “Agar bisa tanam, petani biasanya menggunakan sumur pompa,” ujarnya.

 

Bantuan Alsintan

Marsudi mengatakan, bantuan alsintan yang dikelola langsung oleh gabungan kelompok tani (Gapoktan) melalui unit pelayanan jasa alsintan (UPJA) juga sangat membantu petani dalam olah lahan, tanam hingga panen. “Sudah banyak alat dan mesin pertanian (alsintan) yang diberikan ke petani. Bahkan, jumlah traktor roda dua (TR 2) yang swadaya di Ngawi ini jumlahnya sekitar 5 kali lipat dari jumlah bantuan TR 2 yang diberikan ke petani,” papar Marsudi.

Bantuan alsintan tersebut, berdampak signifikan terhadap olah lahan petani. Artinya, olah lahan petani jadi lebih cepat, tanam lebih cepat dan panen juga lebih cepat. “Penggunaan alsintan juga lebih efektif dan efisien. Saat panen dengan combine harvester tingkat kehilangan hasilnya sangat rendah. Sehingga, penggunaan alsintan ini juga berdampak terhadap peningkatan produksi padi,” jelas Marsudi.

Marsudi mengatakan, alsintan yang dikelola sejumlah Gapoktan melalui UPJA di Ngawi tak hanya berperan dalam mewujudkan modernisasi pertanian, tapi juga sebagai sumber usaha baru bagi petani. “Tak sedikit petani yang bergabung mendirikan UPJA dan menjalankan usaha sewa alsintan mendapat untung dari usaha tersebut,” kata Marsudi.

Ia juga mengatakan, dukungan sarana produksi seperti bibit padi, pupuk, pestisida, dan jaminan pasca panen juga sangat penting untuk mendorong peningkatan produksi petani padi. “Alsintan saja tak cukup. Petani akan lebih senang apabila ada dukungan atau jaminan kecukupan pupuk bersubsidi dan pupuk organik. Sebab, dari rencana definitif pupuk yang diusulkan petani rata-rata baru terpenuhi 60 persen,” kata Marsudi.

Menurut dia, bantuan pupuk (pupuk subsidi,red) sangat dirasakan manfaatnya bagi petani. Sebab, pupuk yang dibeli petani dengan harga lebih murah di bandingkan dengan pupuk yang dijual di pasar bebas. Karena itu, pihaknya berharap pupuk subsidi tersebut bisa didistribusikan pada saat mulai tanam tiba. Sehingga, petani tak menunggu lama ketika mulai pemupukan.

Marsudi juga mengungkapkan, bantuan benih padi juga menjadi faktor pendorong lainnya dalam peningkatan produksi. Mengingat, dengan bantuan benih padi berkualitas sangat menentukan tingginya produktivitas padi yang dihasilkan petani. “Kalau benihnya berkualitas, tentu ada jaminan produktivitasnya akan tinggi,” ujarnya.

Alhasil, dengan kerjasama dan kolaborasi dengan pemerintah pusat, petani di Ngawi tak hanya bisa tanam 3 kali setahun. Bahkan, sejumlah petani yang mengolah sawah di Kecamatan Kedunggalar bisa tanam empat kali/tahun. “Sebagian petani di kecamatan ini sudah menggunakan benih padi usia 70 hari panen,” ujarnya.

Marsudi mengatakan, selain didukung sumber daya alam (SDA), keberhasilan Kab. Ngawi dalam meningkatkan produktivitas padi petani juga didukung sejumlah stakeholder seperti TNI AD (Babinsa, red), penyuluh, penyedia pupuk subsidi, dan Bulog. “Semua itu juga tak lepas dari peran pemerintah pusat dalam melakukan monitoring setiap kegiatan di daerah,” pungkas Marsudi. (Tabloid Sinar Tani/Idt/Yul/Ditjen PSP)

Tue, 2 Jul 2019 @15:03


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved