saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Shadam Hikaruz 0877-7922-2022
KUNINGAN Septian 085295591920
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Modernisasi Ungkit Produktivitas Tenaga Kerja

image

Modernisasi pertanian melalui penggunaan alat mesin pertanian selama empat setengah tahun ini mampu mengungkit produktivitas tenaga kerja. Hal itu kemudian mendongkrak kesejahteraan petani hingga menurunkan kemiskinan penduduk desa.

 

Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ketut Kariyasa mengatakan, modernisasi menyebabkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat tajam. Hal ini dapat dilihat, selama periode 2014-2018, dimana tenaga kerja saat itu mencapai 20,34 persen atau meningkatkat rata-rata 4,79 persen per tahun. “Pada tahun 2014, produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian sebesar Rp 23,3 juta per orang dan pada tahun 2018 meningkat menjadi Rp 28,0 juta per orang," katanya.

Membaiknya produktivitas ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja yang digunakan pada sektor pertanian semakin produktif. Apalagi mekanisasi yang ada mampu menghasilkan output yang semakin besar. Meski demikian, kata dia, semua capaian ini tidak terlepas dari upaya semua pihak dalam mendukung program terobosan dan kebijakan Kementan yang tepat sasaran.

“Saat ini kami juga terus mendorong petani untuk menerapkan inovasi teknologi pertanian terkini, seperti penggunaan benih varietas unggul baru, perbaikan manajemen pemupukan dan pengairan, maupun teknologi panen dan pasca panen," tuturnya.

Di samping itu, ungkap Kariyasa, penggunaan alsintan juga mampu memenuhi kelangkaan tenaga kerja dan mendorong generasi muda untuk terjun langsung ke sektor pertanian. Modernisasi pertanian ini terbukti mampu menghemat biaya produksi dan mempercepat proses produksi hingga meningkatkan produktivitas lahan.

“Sebagai contoh, penggunaan traktor roda-2 dan roda-4 mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dari 20 orang menjadi 3 orang/ha. Belum lagi biaya pengolahan lahan turun sekitar 28 persen," katanya.

Selain itu, penggunaan rice transplanter mampu menghemat tenaga tanam dari 19 orang menjadi 7 orang/ha. Sehingga, pola ini dapat menurunkan biaya tanam hingga 35 persen serta mempercepat waktu tanam menjadi 6 jam/ha.

Belum lagi penggunaan combine harvester yang bisa menghemat tenaga kerja dari 40 orang menjadi 7 orang. Lebih dari itu, alsintan juga bisa menekan biaya panen hingga 30 persen dan menekan kehilangan hasil menjadi 2 persen. "Dari sisi ekonomi, alsintan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi keluarga petani hingga mencapai 80 persen dari Rp 10,2 juta menjadi Rp 18,6 juta perhektar permusim," katanya.

 

Bonus Demografi

Kementerian Pertanian terus menyiapkan sarana dan prasarana menghadapi bonus demografi yang diperkirakan mencapai 64 persen. Pasalnya, bonus ini akan menghadirkan besarnya komposisi usia produktif ketimbang usia non produktif.

“Karena itu, kami terus membuat kebijakan dan program terobosan seperti mentransformasi pertanian tradisional menjadi modern serta meningkatkan kualitas SDM," ujar Kariyasa.

Kariyasa mengatakan, melalui modernisasi sektor pertanian menjadi menarik karena serba teknologi dan digital. Terobosan ini juga diharapkan membuka mata anak muda untuk terjun langsung ke sektor pertanian. Hingga kini sudah lebih dari 400 ribu unit pemerintah mendistribusikan alsintan ke seluruh pelosok daerah. Jumlah ini meningkat 500 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Bantuan alsintan ini terbesar sepanjang sejarah Indonesia. Modernisasi dilakukan sebagai persiapan menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0,” katanya. Seluruh bantuan terbukti telah memberi manfaat besar, terlebih untuk menghadapi era revolusi industri 4.0.

Namun di sisi lain, Kariyasa mengingatkan, bantuan dan bonus itu dapat memberi ancaman jika tidak dikelola dengan baik. Terutama dari aspek penyediaan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan SDM.

Melalui modernisasi, kata Kariyasa, generasi muda akan merasa bangga karena sektor pertanian mampu memberikan pendapatan yang tidak kalah besar dengan upah seorang pegawai lain. Pertanian juga tidak melulu bergelut dengan lumpur dan terpaan sinar matahari. “Cara bekerja pertanian tidak lagi mengandalkan otot yang sangat meletihkan. Tapi, di era ini, pertanian sudah menggunakan alsintan,” katanya.

Pada saat yang sama, Kementan juga terus berupaya meningkatkan kualitas dan keterampilan SDM, khususnya petani milenial dengan membangun 10 Polbangtan sebagai wahana pencetakan pengusaha muda. “Untuk mewujudkan Polbangtan yang berkelas dunia, kualitas materi dan metode pengajarannya pun terus diperbaiki dan disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan jaman," katanya.

Sekedar diketahui, minat anak muda pada bidang pertanian cukup besar. Ini terlihat dari pelamar Polbangtan yang membludak dan meningkat sampai 1.238 persen, di mana angka tersebut awalnya hanya 980 orang menjadi 13.111 orang pada tahun 2018.

“Kami juga melibatkan sarjana pertanian sebagai pendamping penyuluhan pertanian dalam Program UPSUS, membentuk Pemuda Tani Indonesia (GEMPITA) dan membangun wirausaha seperti start up muda pada Taman Sain Pertanian (TSP) dan Taman Teknologi Pertanian (TTP) yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia,” tuturnya. (Tabloid Sinar Tani/Yul/Ditjen PSP)

Mon, 5 Aug 2019 @13:04


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved