saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Memperbaharui Paradigma Sentra Kopi Nusantara

Sekalipun ada perbedaan data dari berbagai sumber, namun dapat diyakini bahwa luas areal tanaman kopi di Indonesia saat ini tidak kurang dari 1 juta hektar, dengan produksi nasional tidak lebih dari 700 ribu ton. Ini berarti produktivitas rata-rata perkebunan kopi di Indonesia tidaklah lebih dari 700 kg per hektar.

Dibandingkan dengan negara-negara penghasil utama kopi dunia seperti Brazil dan Vietnam, produkvitasnya masing-masing sudah mencapai 4 ton per hektar dan 3 ton per hektar. Rendahnya produktivitas perkebunan kopi di Indonesia terutama disebabkan karena lebih dari 90 persen terdiri perkebunan rakyat yang kondisinya sebagian merupakan tanaman yang sudah tua dan/atau rusak, bukan varietas yang unggul, dan belum menerapkan teknik budidaya yang baik.

Permasalahan dapat diatasi dengan melakukan program replanting kebun kopi rakyat yang sudah tua/rusak/ tidak produktif, serta penerapan cara budidaya yang baik atau Good Agriculture Practices (GAP). Program Replanting Kopi perlu fasilitasi dari Pemerintah yang meliputi antara lain a) bantuan benih bermutu, b) bantuan alat pengolahan pupuk organik/kompos, c) Integrasi usaha peternakan kambing/sapi dengan perkebunan kopi, d) Pengembangan sistem pengairan untuk tanaman kopi, e) Kredit Usahatani Terpadu dalam rangka replanting kopi, f) Penerapan cara budidaya yang baik (GAP), termasuk pengembangan sistem pengairan tanaman kopi, dan g) Pembinaan di lapangan oleh Petugas khusus yang kompeten/terlatih.

 

Kesulitan Benih Bermutu dan Mutu Green Bean  

Daerah-daerah seperti Kalimantan, Sulawesi bagian Tengah dan Utara, Maluku, Papua, NTT dan beberapa daerah lainnya masih terkendala untuk mendapatkan benih kopi yang bermutu, baik untuk varietas kopi Robusta maupun Arabika. Kebijakan Pemerintah memberikan bantuan benih kopi siap tanam yang didatangkan dari pusat-pusat perbenihan di Jawa dan Sumatera dapat dikatakan kurang efisien karena tingginya biaya pengiriman dan resiko kerusakan benih selama pengangkutan.

Mutu biji kopi (green bean) yang dihasilkan oleh petani pada umumnya masih kurang baik, sehingga menyebabkan rendahnya harga jual kopi (biji kopi) pada tingkat petani. Rendahnya mutu biji kopi tersebut terutama dikarenakan buah kopi yang dipetik belum cukup tua, ditambah lagi dengan penanganan pasca panen oleh petani yang kurang baik.

Petik muda sering terpaksa dilakukan oleh petani karena tuntutan kebutuhan uang untuk kehidupan petani yang bersangkutan, seperti untuk biaya anak sekolah dan kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk mengatasi masalah ini solusi ideal yang dianjurkan ialah dengan memberikan Kredit Penyangga Perkebunan yang dapat digunakan oleh para petani kopi untuk melakukan diversifikasi usaha misalnya peternakan kambing dan/atau usaha lainnya di samping perkebunan kopi, sehingga petani yang bersangkutan mempunyai sumber pendapatan lainnya selama menunggu buah kopi siap dipanen.

Untuk meningkatkan penanganan pasca panen sesuai cara penanganan pasca panen yang baik (good handling practices/GHP), fasilitasi pengadaan sarana pasca panen kopi oleh Pemerintah dapat diberikan dengan berbasis pada Kelompok/Koperasi Petani Kopi. Tak kalah pentingnya juga pembinaan di lapangan oleh petugas yang kompeten/terlatih baik pada aspek teknis budidaya, pasca panen maupun manajemen usaha kelompok/koperasi petani kopi.

 

 Kawasan Pengembangan

 

Masalah utama dan kronis pada sektor pertanian di Indonesia ialah paradigma kolonial Belanda pada ratusan tahun silam yang masih terwarisi hingga jauh setelah Indonesia merdeka. Pada masanya, Pemerintah Belanda di Indonesia membangun sentra-sentra produksi pertanian (agri center) seperti sentra produksi karet di Sumatera Utara; sentra produksi kopi antara lain di Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Timur, Toraja dan Flores; sentra produksi lada di Lampung dan Bangka-Belitung; sentra produksi teh di Jawa Barat; sentra produksi gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur; sentra produksi cengkeh dan pala di Maluku; dst.

Tujuannya tidak lain ialah untuk memperoleh hasil komoditas pertanian yang sebanyak-banyaknya guna keperluan perdagangan internasional oleh pihak kompeni. Hasilnya adalah produksi pertanian yang melimpah, tetapi petani pelaku produksi berbagai komoditas pertanian tersebut sangat sengsara, karena yang dibangun oleh Belanda pada masa itu adalah sentra-sentra produksi (agri center) semata, bukan agricultural based profit center. Tolok ukur keberhasilannya adalah luas areal dan produksi komoditas, bukan peningkatan kesejahteraan masyarakat/petani pelakunya.

Menyikapi hal tersebut di atas, maka perlu adanya perubahan paradigma pembangunan pertanian secara menyeluruh, yaitu dari yang selama ini berorientasi kepada pencapaian target produksi tertentu, ke depan harus berorientasi kepada terwujudnya kesejahteraan masyarakat khususnya petani dan masyarakat perdesaan pada umumnya.

Untuk itu maka pendekatan yang dilakukan bukan lagi membangun sentra-sentra produksi seperti yang selama ini dilakukan melainkan pengembangan kawasan-kawasan pembangunan ekonomi masyarakat berbasis agribisnis (Kapemba), dalam hal ini yaitu Kapemba Kopi. Konsep Kapemba menekankan bahwa sasaran utama yang hendak dicapai dalam pembangunan pertanian ialah kesejahteraan masyarakat khususnya petani, dengan indikator utamanya yaitu tingkat pendapatan masyarakat yang terkait dengan usaha di bidang pertanian/agribisnis. Pendekatan yang dilakukan ialah pengembangan kawasan sebagai agro/agricultral based profit center melalui keterpaduan program lintas sektor dan antar wilayah.

Kapemba Kopi dilengkapi antara lain dengan: a) Pengembangan diversifikasi usahatani horizontal dan vertikal dalam Kawasan (Kapemba); b) Pengembangan sistem pengairan untuk tanaman kopi (air permukaan, pompanisasi dengan tenaga surya/solar cell); c) Pengembangan kelembagaan usaha Kelompok/Koperasi; d) Pengembangan Agro Technopark Kopi dan Agro Wisata; e) Pengembangan Resi Gudang Kopi; f) Pengembangan manajemen Bonded Area; g) Dukungan pendanaan Kredit Usaha Rakyat; h) Pengembangan Fasos dan Fasum Kawasan; i) Pengembangan infrastruktur penunjang di luar Kawasan; serta j) Peningkatan promosi dan pemasaran kopi baik di dalam negeri maupun luar negeri. (

Jamil Musanif/tabloid Sinar Tani)


Wed, 18 Sep 2019 @14:55


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved