saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
SLINK
HISTATS

Minat Petani Manfaatkan Alsintan Terus Meningkat

Upaya pemerintah menjadikan pertanian Indonesia lebih modern dengan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) mendapat sambutan dari petani. Minat petani terhadap peggunaan alsintan terus meningkat.

 Hal itu dirasakan Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA) Jaya Makmur yang berlokasi di Desa Wringin Agung, Kec. Gambiran, Kab. Banyuwangi. “Minat petani sewa alsintan tiap musim tanam dan panen cukup bagus,” kata Ketua UPJA Jaya Makmur, Paimin.

 Bahkan, pada musim panen awal tahun 2019 lalu, penyewaan combine harvester di UPJA Jaya Makmur banyak diminati petani. “Lumayan sewanya laris-manis. Yang sewa combine harvester tak hanya petani disini, tapi petani dari kecamatan lain seperti Kecamatan Blimbing Sari (dekat bandara) dan Kecamatan Srono,” papar Paimin.

 Usaha penyewaan alsintan UPJA Jawa Makmur bukan hanya combine harvester, tapi juga alsintan olah tanah dan tanam. Namun mesin traktor dan combine harvester adalah alsintan yang sangat favorit digunakan petani saat olah tanah dan panen.

Bahkan saat musim kemarau (Juli-Agustus) petani di Kecamatan Gambiran tetap mengolah lahan, karena adanya saluran irigasi teknis. Karena itu, petani bisa tanam padi 3 kali setahun (IP 300). “Sebagian lainnya masih bisa melakukan olah lahan untuk tanam palawija, seperti jagung. Ada sebagian yang saat ini beralih ke tanaman horti seperti, buah naga,” papar Paimin.

 

Untung dari Sewa Alsintan

Dari usaha penyewaan jasa alsintan, Paimin mengungkapkan, UPJA Jaya Makmur yang dibentuk Gapoktan Tani Agung sejak tujuh tahun silam ini sudah menuai untung. Lantaran banyak petani yang menyewa alsintan, manajemen UPJA Jaya Makmur tahun 2019 berani menargetkan pendapatan sebesdar Rp 59 juta.

 “Sebagian pendapatan alsintan itu, sebagian besar diperoleh dari sewa combine harvester,” ujarnya. Selain sewa alsintan, UPJA Jaya Makmur juga mengelola sejumlah usaha ekonomi lainnya seperti koperasi simpan pinjam dan lumbung padi sebagai sumber pendapatan Gapoktan Tani Agung.

“Usaha tersebut kami kelola dengan manajemen yang bagus. Khususnya untuk pendapatan dari sewa alsintan sampai Mei tahun ini sudah berjalan relatif cukup bagus,” tutur Paimin.

Data UPJA Jaya Makmur menyebutkan, pendapatan UPJA pada tahun 2018 tercatat sebesar Rp 30,8 juta. Sedangkan pada tahun 2017, pendapatan UPJA dari sewa alsintan Rp 36,6 juta dan pada tahun 2016 Rp 64,7 juta.

Paimin mengakui, memang pendapatan UPJA dari sewa alsintan pada tahun 2018 lebih rendah dibandingkan tahun 2017 karena sejumlah alsintan sudah mulai memasuki masa perawatan. “Jadi, sebagian hasil sewa alsintan pada tahun 2018 kami gunakan untuk biaya perawatan seperti ganti oli dan perbaikan sejumlah mesin combine harvester dan traktor,” ujarnya.

Namun menurut Paimin, secara keseluruhan pendapatan usaha yang dikelola Gapoktan Tani Mandiri pada tahun 2018 (sewa alsintan, koperasi simpan pinjam, dan lumbung padi) mengalami peningkatan sebesar Rp 523,5 juta dibandingkan tahun 2017 sebanyak Rp 478,7 juta.

Tercatat, pendapatan Koperasi Kelompok Tani Jaya Makmur per 31 Desember 2018 dari bunga unit simpan pinjamn Rp 380,6 juta, penerimaan unit usaha alsintan Rp 30,8 juta, penerimaan unit usaha lumbung padi Rp 29,4 juta, penerimaan dari administrasi Rp 46,8 juta, penerimaan saprodi Rp 17,7 juta, bunga bank Rp 3 juta, lain-lain Rp 15,1 juta. Sehingga, total pendapatan Gapoktan Tani Mandiri per 31 Desember 2018 sebesar Rp 523,5 juta.

Periode yang sama tahun 2017, pendapatan Gapoktan Tani Mandiri tercatat Rp 478,7 juta. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2016, pendapoatan Gapoktan Tani Mandiri sebesar Rp 498,4 juta. “Kami akan terus mengawal semua usaha ini agar pendapatannya sesuai yang ditargetkan pada tahun ini,” kata Paimin.

 

Lebih Efisien

Mekanisasi sudah terbukti mampu mengurangi kerugian petani, baik saat menanam maupun panen. Contohnya kehilangan atau losses saat panen biasanya terjadi saat pemotongan, perontokan dan pengeringan bisa mencapai 10%. Namun panen dengan menggunakan combine harvester hanya 1-3%.

Efisiensi kerja dengan menggunakan alsintan dapat terlihat dalam waktu kerja olah tanah yang biasanya bila manual butuh 320-400 jam/ha, Kini dengan alsintan hanya butuh 4-6 jam/ha atau 97,4% lebih efisien dan menghemat biaya kerja hingga 40% atau hanya 1.2 juta/ha bila sebelumnya 2 juta/ha.

Efisiensi waktu juga berpengaruh terhadap alokasi tenaga kerja yang akhirnya akan mempengaruhi efisiensi biaya. Berdasarkan uji yang dilakukan Kementan, mekanisasi telah mampu menurunkan biaya produksi sekitar 30%, disisi lain mampu meningkatkan produktivitas lahan 33,83%.

Bahkan mekanisasi mampu menghemat penggunaan tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah produksi, sehingga menyebabkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat. Tercatat, selama tahun 2014-2018, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian meningkat 20,35%, dari sebesar Rp 23,29 juta per orang pada tahun 2014 meningkat menjadi Rp 28,03 juta per orang pada tahun 2018.

Dengan adanya teknologi, bisa meningkatkan produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani sebagai user dari teknologi tersebut. Apalagi menghadapi berbagai hambatan pembangunan pertanian seperti menyempitnya lahan, climate change hingga regenerasi petani. (Tabloid Sinar Tani/Yul/Ditjen PSP

Wed, 18 Sep 2019 @15:00


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved