saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Tusip, Bikin Produksi Kedelai Tambah Sip !

image

Kedelai menjadi salah satu komoditas pangan yang terus digenjot produksinya guna menekan volume impor yang saat ini masih cukup besar. Salah satu upaya pemerintah adalah inovasi dalam teknologi budidaya.

Kementerian Pertanian telah menyusun langkah penerapan teknologi tanam alternatif guna mencapai target luas tanam kedelai tahun 2019. Salah satunya melalui sistem tanam Tumpang Sisip (Tusip) atau Relay Croping.

Direktur Aneka Kacang dan Umbi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Amirudin Pohan menjelaskan, Tusip adalah cara bercocok tanam dalam satu bidang lahan dengan ditanami dua atau lebih jenis tanaman dengan pengaturan pada waktu panen dan tanamnya.

“Tusip itu caranya menyisipkan tanaman kedelai pada tanaman lainnya, untuk waktunya yang paling baik pada saat menjelang panen tanam lainnya tersebut,” kata Amirudin.

Menurutnya, tumpang sisip kedelai bisa dilakukan dengan tanaman jagung. Bahkan sangat memungkinkan dilakukan pada Oktober ini mengingat panen jagung cukup luas di akhir Oktober ini. Nah, sebelum panen jagung dimanfaatkan untuk tanam tusip kedelai.

"Jadi ini kan sebentar lagi akan panen jagung. Nantinya tanaman jagung sekitar 10-20 hari sebelum panen, kita tanam tusip ini. Banyak potensinya baik pada pertanaman jagung bantuan pemerintah maupun tanaman swadaya petani,” papar Amirudin.

Amirudin menganggap, budidaya cara tusip merupakan bentuk pertanian terpadu, bahkan solusi intensifikasi dalam meningkatkan indeks pertanaman. Petani juga sangat diuntungkan.

Ada beberapa alasan kenapa saat ini kesempatan yang bagus untuk tusip kedelai. Pertama, mengingat petani sudah sering melakukan Tusip tanaman satu dengan yang lainnya jadi tidak perlu ada pembelajaran. Kedua, lanjutnya, bantuan benih dan pupuk dari Kementan untuk tanaman kedelai masih tersedia dan bisa segera dimanfaatkan. 

Ketiga, pertanaman jagung dari bantuan pemerintah maupun swadaya yang akan panen dalam waktu dekat ini cukup luas. “Dengan cara ini target Kementan mengenjot pencapaian produksi kedelai tahun 2019 seluas 600 ribu ha atau dua kali lipat dari tahun kemarin bisa tercapai,” kata Amirudin.

Sementara itu Kepala Subdirektorat Kedelai, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Rachmat menambahkan, sasaran kegiatan Tusip akan dilaksanakan di 23 provinsi sentra produksi jagung yang masih banyak terdapat pertanaman jagung.

Untuk mensukseskan kegiatan ini menurutnya, perlu kerjasama yang solid. Kerja sama tidak hanya di dalam Kementan, namun juga dengan menggandeng seluruh unsur aparat pertanian dari pusat hingga ke level desa untuk bersama-sama sukseskan Tusip.

 

Manfaatkan Galian Pasir

Sementara itu di Kabupaten Kuningan, Kementerian Pertanian memprogramkan pemanfaatan eks lahan galian pasir menjadi produktif untuk budidaya kedelai. Bahkan kini lahan eks galian pasir yang merupakan lahan marginal di Desa Cibulan, Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan menjadi sentra produksi kedelai. Bukan haya itu, kini diupayakan menjadi destinasi agrowisata. 

Wakil Bupati Kuningan Rido Suganda mengatakan, kedelai akan jadi ikon baru Desa Cibulan dan juga Kabupaten Kuningan. Usaha tani pertanaman kedelai di lahan bekas galian pasir telah menjadikan Desa Cibulan sebagai Juara Desa Teladan se-Provinsi Jawa Barat.

“Semua pihak termasuk para petani harus kerja keras menjadikan Desa Cibulan dan juga Kecamatan Cidahu menjadi unggulan dari berbagai kekuatan perekonomian termasuk dari sektor petanian, terutama komoditas kedelai," kata Rido di Kuningan.

Berangkat dari ini, Rido menginginkan kekuatan pertanian untuk Provinsi Jawa Barat berciri inovasi teknologi. Salah satunya dengan membuat tanah berpasir produktif dengan produktivitas yang tinggi. “Tanaman kedelai di sini akan kita jadikan ikon secara menyeluruh. Kalau orang bicara kedelai yang unik ya Kabupaten Kuningan,” ujarnya. Apalagi lanjutnya, masyarakat lebih menyukai kedelai lokal daripada impor.

Kepala Seksi Aneka Kacang dan Umbi Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan, Rohendi mengatakan, produksi kedelai petani Kuningan mencapai 1.342 ton dengan pola dua kali tanam atau panen. Dengan demikian, belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Kuningan yang mencapai 600 ton/bulan. “Jadi ini kesempatan memanfaatkan lahan-lahan yang gersang seperti di Desa Cibulan. Kita optimis bisa penuhi kebutuhan secara mandiri," ujarnya.

Rohendi optimis, target tersebut bisa diwujudkan karena tingginya perhatian pemerintah. Misalnya, ada bantuan benih sebanyak 10 ton untuk 200 ha, sehingga bisa mendongkrak produksi kedelai di Cibulan.

Kalkulasinya, jika hasil panen sebesar 1,4 ton/ha, maka dengan luasan 200 ha ada produksi 280 ton. Itu berarti separuh dari kebutuhan kedelai Kabupaten Kuningan untuk sekali panen bisa tercukupi dari petani sendiri.

“Logikanya, kalau semua lahan gersang atau tanah marjinal bekas galian pasir yang bisa langsung diusahakan seluas 514 ha tentu hasilnya bisa minimal mencapai 750 ton sekali panen atau tiga bulan," kata Rohendi.

Dengan demikian, untuk satu bulan petani dari Desa Cibulan ini bisa memasok sebanyak 250 ton. Hasil ini ia nilai sangat luar biasa, sehingga pemerintah akan dorong terus agar kebutuhan kedelai untuk masyarakat Kabupaten Kuningan bisa terpenuhi dari petani sendiri.

“Kalau panen sekali tiga bulan, maka hasilnya akan diolah menjadi bahan pangan yang lebih bernilai. Bahkan saat ini pemerintah Kabupaten Kuningan sedang berusaha menghubungkan UPH Kedelai Cibulan dengan beberapa Rumah Sakit di Kabupaten Kuningan," tutur Rohendi.

Di tempat terpisah, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan, Kementan, Gatut Sumbogodjati mengatakan, Kementan memberikan bantuan Unit Pengolahan Hasil (UPH) kedelai untuk menampung hasil panen kedelai lokal agar dapat diolah dalam berbagai produk olahan. Tidak hanya tahu dan tempe, tetapi juga kecap, kue-kue, keripik, dodol bahkan bisa dalam pengembangan lebih lanjut akan menyentuh produk kecantikan.

“Dengan adanya olahan tersebut Kementan berharap dapat membantu meningkatkan pendapatan petani dan menumbuhkan potensi agrowisata di Kabupaten Kuningan," katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Cibulan, Iwan Gunawan mengatakan, hasil olahan kedelai yang sudah dipasarkan harus segera diperluas ke kecamatan lain yang bersebelahan dengan Kecamatan Cidahu. Desa Cibulan sendiri melalui Gapoktan Silih Asih telah mendirikan UPH Kedelai. “Bantuannya berupa sarana pengolahan kedelai dari Kementan,” katanya. Tabloid Sinar Tani/Yul/Ditjen PSP

Thu, 7 Nov 2019 @11:15


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved