saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
SLINK
HISTATS

Budidaya Kacang Hijau Patut Dilirik

image

Kacang hijau menjadi komoditas tanaman pangan yang selama ini masih kurang mendapat perhatian. Namun sebenarnya potensi pasarnya cukup besar, sehingga peluang usaha tani cukup menarik untuk digeluti petani.

Kepala Puslitbang Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Harris Syahbuddin mengakui, selama ini kacang hijau memang bukan menjadi komoditas utama, karena pemerintah masih fokus komoditas padi, jagung dan kedelai (pajale). Apalagi upaya pengembangan kacang hijau masih bersumber dari APBN. “Karena banyak komoditas yang harus ditangani, sehingga tidak memungkinkan pengembangan dalam skala besar,” katanya.

Data Angka Ramalan I BPS 2018, produksi kacang hijau sebanyak 234.718 ton dengan luas panen 197.508 ha dan produktivitas 11,8 ku/ha. Daerah penghasil kacang hijau terbesar yakni Jawa Tengah yang berkontribusi sebesar 53 persen, Jawa Timur 20 persen dan NTB sebesar 11 persen. Sementara Kementerian Pertanian untuk tahun 2019 menargetkan produksi sebanyak 309 ribu ton.

Harris melihat peluang pengembangan usaha tani cukup besar. Apalagi kini Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian sudah mulai mengarahkan semua penelitian, termasuk varietas tanaman untuk tidak lagi berpikir untuk usaha rumah tangga, tapi untuk industri juga. Jadi pemulia tanaman harus berpikir menghasilkan varietas yang diminati kalangan industri. “Dengan industri, proses hilirisasi akan lebih cepat dan kontinuitas terjamin,” ujarnya.

Sementara bagi petani, dengan mengembangkan atau memproduksi komoditas yang sesuai kebutuhan industri, pendapatannya akan naik. Karena hasil produksi bisa langsung diserap industri, petani juga mendapatkan harga yang lebih baik. Selama ini yang banyak mendapatkan keuntungan dalam perdagangan komoditas pertanian adalah pedagang. “Bahkan di sisi lain akan memberikan dampak balik terhadap pengembangan riset pertanian,” katanya.

Sementara itu Direktur Pemasaran PT. East West Seed Indonesia (EWSI), Afrizal Gindow mengakui, kacang hijau memang masih banyak yang impor dari Myanmar. Padahal di sisi lain banyak ahli di Indonesia yang menguasai komoditas tersebut. “Kita bisa tergantung dari impor terus menerus. Apalagi peluang pengembangan pasar kacang hijau di dalam negeri cukup besar,” ujarnya.

Menurutnya, selama ini pangan kacang hijau belum banyak disentuh kalangan industri, terutama dari industri perbenihan. Selama ini petani mendapatkan benih kacang hijau hanya dari petani ke petani, sehingga kualitas benihnya tidak terjamin dengan baik. “Karena itu sejak dua tahun lalu, perusahaan kami masuk memproduksi benih kacang hijau dengan mengembangkan benih Vima 1 dari Balit KABI,” ujarnya.

Saat ini Balai Penelitian Kacang dan Umbi-umbian (Balit KABI), Jember, telah menghasilkan varietas kacang hijau unggul yakni Vima 1 hingga 5. Untuk Vima bernomor ganjil (1,3 dan 5) warna biji kusam, sedangkan Vima bernomor genap (2 dan 4) bijinya licin. Dari hasil penelitian ternyata produktivitasnya cukup tinggi hingga 2 ton/ha. Sedangkan rata-rata mencapai 1,5 ton/ha.

Kelebihan kacang hijau varietas Vima tersebut yakni berumur pendek di bawah 56 hari dan bisa panen serempak, sehingga petani bisa menghemat biaya panen. Dengan hampir 85 persen masak serempak menjadi daya ungkit industri.

 

Geliat Industri Pangan

Sementara itu Doni Wibisono, dari Gabungan Perusahaan Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) juga mengakui, peluang pengembangan kacang hijau terbuka. Dalam tiga tahun terakhir inovasi dari industri makanan dan minuman (pangan olahan) berbahan baku kacang hijau cukup banyak.

Jika sebelumnya, produk pangan olahan kemasan berbahan baku kacang hijau sebatas minuman sari kacang hijau, maka kini sudah ada minuman susu kacang hijau dan sereal kacang hijau. Belum lagi produk makanan bayi dan ibu hamil yang menggunakan kacang hijau. Ada juga makanan untuk orang yang berkebutuhan khusus. “Tahun depan bakal ada merek brand baru kacang hijau instan yang hanya dengan memanaskan di microwave bisa langsung dikonsumsi,” katanya.

Menurut Doni, kacang hijau ke depan menjadi pangan fungsional. Banyak manfaat untuk kesehatan, berkhasiat obat tradisional seperti mencegah penyakit beri-beri, memperlancar buang air kecil dan menghaluskan kulit wajah. “Dengan berbagai khasiat memegang peranan penting dalam pencegahan penyakit, maka kacang hijau termasuk komoditas fungsional,” ujarnya.

Doni melihat dengan perkembangan industri berbahan baku kacang hijau cukup besar, tapi produksi di dalam negeri belum bisa mencukupi, sehingga untuk memenuhi kebutuhan tersebut masih harus dipasok dari impor. Data BPS menyebutkan dengan produksi kacang hijau tahun 2019 sebesar 234.718 ton, Indonesia mengekspor sekitar 32.269 ton dan mengimpor sebanyak 90.317 ton. Sedangkan konsumsi dalam negeri mencapai 233.497 ton.

Sedangkan dilihat dari nilai impor kacang hijau Indonesia mencapai 89,77 juta dollar AS pada tahun 2018 dan tahun 2019 hingga September mencapai 34,1 juta dollar AS. Myanmar menjadi negara penyumbang paling tinggi yang mengekspor kacang hijau ke Indonesia dengan nilainya mencapai 20,29 juta dollar AS.

Meski Indonesia masih mengimpor kacang hijau, namun menurut Doni, Indonesia juga mampu mengekspor dengan 30 juta dollar AS pada tahun 2018. Negara tujuan paling tinggi adalah Filipina dan Vietnam. Tahun ini hingga September nilai ekspornya sebesar 26 juta dollar AS dengan negara tujuan Cina Filipina dan Taiwan. “Kalau kita lihat neraca perdagangan, kacang hijau masih defisit dalam dua tahun terakhir,” katanya.

Dengan potensi perdagangan seperti itu Doni menilai, peluang pengembangan kacang hijau di dalam negeri cukup besar. Apalagi ke depan kebutuhan industri bukan hanya dalam bentuk kacang hijau mentah, tapi juga tepung kacang hijau.

“Bagi kalangan industri makanan dan minuman olahan belum tentu mereka memiliki sendiri mesin pengolahan untuk membuat tepung. Jadi kemungkinan akan ada peluang usaha untuk membuat tepung kacang hijau. Jadi yang belum ada sekarang adalah produk antaranya,” tuturnya. (Tabloid Sinar Tani/Yul)

Mon, 9 Dec 2019 @13:44


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved