saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi Lima Lokasi Jadi Model

image

Program mekanisasi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mendorong petani untuk lebih modern dalam berusaha tani. Untuk itu bantuan alat mesin pertanian (alsintan) pun digelontorkan ke petani.

Guna memaksimalkan bantuan alsintan tersebut, Kementerian Pertanian mendorong petani membentuk korporasi berbasis mekanisasi. Setidaknya ada lima kabupaten yang menjadi uji coba Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi (PKBM).

Ketua Tim Kerjasama Kementerian Pertanian dan Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (Perteta), Suprapti mengakui, kelemahan dalam pemberian bantuan alsintan kepada petani adalah penggunaannya belum maksimal. Karena itu, petani perlu diberikan pendampingan dan pengawasan dalam pemanfaatan.

“Hasil audit BPK dan Itjen Kementan tingkat pemanfaatan alsintan bantuan pemerintah memang belum optimal. Banyak alsintan yang sudah pemerintah bagikan ke petani, tapi kalau dikelola perorangan akan ada kesulitan dalam pemeliharaan dan perbaikan jika rusak,” katanya kepada Tabloidsinartani.com di Jakarta, Jumat (29/11).

Untuk menjawab hal itu lanjut Suprapti, sejak tahun 2018 lalu, Kementerian Pertanian bersama Perteta membuat program percontohan Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi (PKBM). Bentuk percontohan salah satunya adalah membangun warehouse (gudang) alsintan. “Perteta membantu membuat desain warehouse dan pengawalannya selama tiga tahun,” ujarnya.

Anggaran pembangunan warehouse tersebut sudah dialokasikan dalam APBN TA 2019 Kementerian Pertanian. Ada lima kabupaten yang menjadi lokasi percontohan yakni Tuban (Jawa Timur), Sukoharjo (Jawa Tengah), Ogan Komiring Ilir/OKI (Sumatera Selatan), Konawe Selatan (Sulawesi Selatan) dan Barito Kuala/Batola (Kalimantan Selatan).

Warehouse tersebut nantinya dikelola Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). Di Tuban, PKBM akan dikelola UPJA Tani Karya Mandiri yang berlokasi di Kecamatan Rengel. Di Sukoharjo dikelola UPJA Bagyo Mulyo yang berada di Desa Dalangan. Sementara di OKI dikelola KUB Lempuing Jaya Berkarya di Kecamatan Lempuing Jaya. Di Batola oleh UPJA Selidah di Kecamatan Jejangkit, dan di Konawe Selatan dikelola UPJA Mendidoha.

Warehouse tersebut berfungsi untuk menyimpan dan pemeliharaan alsintan. Di dalamnya juga terdapat bengkel dan peralatan untuk perbaikan alsintan, sarana pengisian bahan bakar minyak (BBM), tempat pencucian alsintan, juga ada kios pupuk dan benih.

Pengurus UPJA tersebut nantinya yang mengelola alsintan, terutama pemeliharaan. Jika petani mau meminjam alsintan, pengurus UPJA harus memastikan alsintan siap untuk dipakai. “Bahkan alsintan tersebut sudah bersih dan terisi penuh BBM, karena di warehouse tersedia fasilitas pencucian alsintan dan pengisian BBM,” tuturnya.

Alasan pemilihan UPJA tersebut ungkap Suprapti, adalah berdasarkan hasil survei. Salah satu kriterianya adalah kelompok tani yang mau ikut program tersebut, mampu menerapkan inovasi teknologi dan areanya cukup luas minimal 1.000 hektar (ha). Kriteria lainnya adalah kelompok tani sudah berjalan dengan baik, tapi mengalami kesulitan fasilitas.

 

Basis IT

Suprapti berharap, ke depan layanan di warehouse PKBM sudah melalui teknologi informasi, termasuk penggunaan aplikasi UPJA Smart Mobile yang telah dibuat Balai Besar Mekanisasi Pertanian (BB Mektan). “Kita sudah melatih operatornya. Kita rekrut generasi muda yang menjadi pengelola warehouse tersebut, karena mereka akan lebih mudah mengerti,” tegasnya.

Bahkan dengan basis IT, tidak ada pengurus PKBM yang memegang uang. Sebab menurut mantan Direktur Alsintan ini, berdasarkan pengalaman banyak kelembagaan petani yang awalnya sudah maju, tapi karena pengurusnya memegang uang justru lembaga petani tersebut malah bubar. “Dengan berbasis IT semua laporan keuangan lebih accountable,” ujarnya.

Suprapti juga menilai dengan adanya PKBM banyak keuntungan yang bakal petani dapatkan. Misalnya, usaha pertanian akan dilakukan secara kolektif oleh petani, termasuk dalam penyediaan sarana produksi pertanian (saprodi). Dengan kolektif, harga saprodi menjadi lebih murah.

“Petani diuntungkan dengan kemudahan mendapatkan pupuk subsidi. Juga penyediaan bibit untuk rice transplanter yang dibuat dalam sistem tray,” ujarnya. Bukan hanya itu, bagi Gapoktan juga bisa mendapatkan usaha baru seperti pengadaan bibit (penangkar) dalam tray untuk petani

Ke depan Suprapti mengatakan, di lokasi percontohan PKBM akan ada kemudahan dalam mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar kegiatan usahanya berkembang. Misalnya, di PKBM akan ada juga usaha penggilingan padi yang menjadi offtaker (penampung) gabah petani.

“Petani nanti bisa sistem yarnen (bayar setelah panen). Jadi saat berusaha tani, seperti meminjam alsintan, penyediaan bibit dan pupuk dari PKBM, kemudian pembayarannya setelah panen,” tuturnya.

Dengan adanya PKBM, Suprapti berharap, akan tumbuh kemandirian kelompok tani dalam berusaha tani. Contohnya di Tuban, Gapoktan yang telah mendapatkan bantuan alsintan dari pemerintah kini perputaran uangnya sudah mencapai Rp 100 juta dari hasil penyewaan alsintan.

Kemandirian petani memang menjadi satu harapan pemerintah. Petani tak lagi selalu berharap dari bantuan pemerintah. Tabloid Sinar Tani/Yul/Ditjen PSP

Mon, 9 Dec 2019 @13:48


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved