saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Shadam Hikaruz 0877-7922-2022
KUNINGAN Septian 085295591920
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Hari Tanah Sedunia STOP EKSPLOITASI LAHAN PERTANIAN

image

Tanah merupakan sumber kehidupan dan bagian penting dalam pertanian. Bersama air dan iklim, tanah menjadi tiga serangkai alam penopang kehidupan manusia. Karena itulah, sudah saatnya stop eksploitasi tanah dengan cara-cara yang tidak bertanggung jawab.

"Kesewenangan pada tanah, akan menghukum kita. Maka, perlakukanlah tanah secara arif sesuai tuntunan alam yang ada, jangan melawan alam apalagi merusak atau mengalih fungsi habitat. Kalau itu terjadi, alam akan menghukum kamu secara langsung atau tidak," tegas Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dalam Peringatan Hari Tanah Sedunia (World Soil Day) yang jatuh pada 5 Desember 2019. Peringatan Hari Tanah Sedunia ini diinisiasi FAO tahun 2013.

Syahrul mengatakan, tanah berperan dalam produk biomassa, menyimpan dan merubah hara air, sumber daya hayati, habitat dan plasma nutfah. Bahkan menjadi lingkungan fisik dan aktivitas manusia yang berbudaya, termasuk arkeologi dan geologi. Tapi sayangnya, justru manusia telah mengeksploitasi tanah.

Syahrul mencontohkan lahan gambut yang salah kelola justru mendatangkan bencana yaitu kebakaran hutan. Padahal lahan gambut harus difungsikan dengan baik. Karena itu, ia menilai, pemetaan penting untuk bisa menyesuaikan fungsinya (lahan gambut). “Pemetaan yang dilakukan harus menjadi pedoman khususnya dalam pemanfaatan gambut, jangan keluar dari analisa," tegasnya.

Di Indonesia pemanfaatan lahan gambut berdasarkan teknologi hasil penelitian dan kearifan lokal dalam penataan air dan pengaturan tanaman, terbukti mampu mengendalikan/menghindari munculnya kerusakan gambut. Namun eksploitasi lahan gambut tanpa mengindahkan aspek konservasi, justru berdampak terhadap hilangnya fungsi lindung, keragaman hayati dan kemampunan gambut menyimpan karbon (C) dalam jumlah yang tinggi.

 

Tanah adalah Ibu Sumber Kehidupan

Sementara itu Ketua Himpunan Ilmu Tanah Indonesia, Budi Mulyanto mengatakan, tanah merupakan matrik dasar sistem kehidupan. “Seperti yang diungkapkan di dalam kitab suci, asul-usul kehidupan (manusia) berasal dari tanah. Makanya tanah tidak pernah terlepas dari air dan udara,” ujarnya.

Melihat kondisi tanah saat ini, Budi mengakui, sebagian besar sudah mengalami kerusakan. Tindakan semana-mena terhadap tanah dengan membuang sampah plastik sembarangan dan kimia, tentu menjadikan tanah jadi rusak. “Sampah plastik ini tidak mudah terdegradasi, bahkan hingga 20 tahun pun masih ada. Ini merusak tanah, begitu juga sampah kimia. Itu jelas dapat merusak tanah,” ungkapnya.

Karena itu menurut Budi, perlu perhatian khusus dalam membenahi tanah. Apalagi di Indonesia, tanah ini dipersonifikasikan sebagai ibu karena menentukan segala aspek. Bahkan tanah memiliki berbagai macam fungsi yakni: produksi biomassa, menyimpan serta menyaring dan mengubah nutrisi, serta ruang penyimpan biodiversity.

Agar tanah tetap menjadi sumber kehidupan, menurut Budi, upaya yang dilakukan adalah land degradation netrality yakni menetralkan kembali tanah dengan menghindari degradasi tanah supaya fungsinya tidak menurun. Selain itu menghindari erosi dengan pelarangan atau pemantauan pembukaan lahan pertanian/non pertanian di tanah berbukit/dataran tinggi.

“Jadi untuk lahan pertanian yang berada di tanah berbukit sebaiknya tidak dapat selamanya menjadi lahan pertanian, melainkan batas waktunya hanya maksimal 30 tahun. Setelah itu, kembalikan lagi seperti semula (tanah perhutanan,” ungkap Budi.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Jawa Barat, Hasil Sembiring mengatakan, hampir 60% areal pertanian sudah rusak akibat ulah manusia yang melakukan budidaya tanaman tidak sesuai Good Agriculture Practice (GAP). “Tanah ini sebagai produk berkelanjutan, makanya harus dijaga kelestariannya agar dapat menghasilkan pangan,” ucapnya.

Untuk pengelolaan tanah, menurut mantan Dirjen Tanaman Pangan, sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian (Perentan). Ada Permentan No.48/2006 mengenai Pedoman Budidaya Tanaman Pangan yang Baik dan Benar, Permentan No.14/2009 mengenai Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya Kelapa Sawit dan Permentan No.47/2006 mengenai Pedoman Umum Budidaya Pertanian di Lahan Pegunungan.

Untuk menjaga tanahmenurut Hasil, memang semuanya berkaitan. Seperti varietas dan tanah ada hubungan. Misalnya padi, kini ada varietas yang kaya zat besi karena melihat kondisi tanah pertanian yang kurang zat besi. “Jadi agar tanah dapat terjaga, memang tanaman yang ditanam di setiap daerah tidak sama. Sehingga menanam sesuai spesifik lokasi sangat diperlukan,” ujarnya.

Hasil mengatakan, sifat tanah yang ada di Indonesia ini berbeda-beda, sehingga tidak seluruhnya tidak dapat ditanam dengan tanaman yang seragam. Harus berbeda agar tidak terjadi degradasi tanah. “Dengan menggunakan teknologi spesifik lokasi, secara langsung dapat menjaga kelestarian tanah,” ujarnya.

Menurut Hasil, teknologi yang tepat (sesuai lokasi), dapat menciptakan efisiensi, keberlanjutan dan kompetitif. “Jadi kuncinya, teknologi tepat lokasi akan menciptakan efisiensi dan keberlangsungan karena tanah menjadi sehat yang mengakibatkan ke hasil produksi yang berkualitas. Hasil yang bagus ini, tentu menjadi kompetitif, sehingga mampu diterima di pasar global,” tuturnya. (Tabloid Sinar Tani/Gsh/Cla/Yul)

Wed, 11 Dec 2019 @14:59


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved