saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
HISTATS

Produksi Padi Dikerek 7 Persen

Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi padi sebesar 7 persen pertahun. Di sisi lain, kehilangan hasil panen diturunkan dari 12 persen menjadi 5 persen.

"Peningkatan produksi minimal 7 persen pertahun menjadi bagian penting yang harus kita capai," kata Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo di sela-sela Rapat Kerja Nasional Ditjen Tanaman Pangan di Depok, Senin (13/1).

Untuk bisa mencapai target tersebut, Syahrul meminta, pimpinan daerah, terutama Dinas Pertanian untuk menemukan cara agar produksi bisa naik 7 persen dari sekarang. "Cari caranya. Kalian lebih tahu dan pintar dari saya," pinta Syahrul kepada dinas pertanian yang hadir.

Hal lain agar produksi padi bisa mencapai target, Syahrul juga mengingatkan agar kehilangan hasil (losses) usai panen diturunkan dari 12 persen menjadi 5 persen. Salah satu caranya adalah pemerintah mencanangkan Komando Strategi Pembangunan Penggilingan Padi (Kostraling). "Untuk menurunkan losses, ujung-ujungnya di RMU (rice milling unit) yang baik," ujarnya.

Dengan adanya Kostraling bukan hanya untuk mengamankan produksi dan menurunkan losses, tapi juga mengamankan stok nasional, bahkan juga bisa ekspor. “Kita ingin ekspor tahun ini sebanyak 100 ribu ton. Kita harus persiapkan dari hulu yakni budidayanya hingga hilirnya di penggilingannya," ujarnya.

Karena itu menghadapi musim panen yang sudah mulai ada di beberapa daerah pada Januari ini, Syahrul menghimbau agar perusahaan penggilingan padi membantu mengamankan harga gabah petani. Apalagi panen akan terus berlanjut, pada Februari sekitar 30-40 persen, Maret bertambah menjadi 50-60 persen dan April diperkirakan menjadi puncak panen.

Namun demikian menurut Syahrul, tidak semua penggilingan padi menjadi bagian dari Kostraling, tapi hanya wilayah utama. Sedangkan di wilayah andalan boleh ada atau tidak Kostraling tergantung kondisinya. Sementara untuk wilayah pengembangan tidak perlu ada Kostraling. “Jadi yang benar-benar siap saja yang menjadi bagian Kostraling, karena ujung-ujungnya kita ingin ada ekspor beras,” ujarnya.

Untuk program Kostraling ini, pemerintah menyediakan anggaran sekitar Rp 3 triliun guna mengintervensi penggilingan padi. Sehingga diharapkan nantinya, RMU di Indonesia juga sebaik di Korea atau China. “Saya minta agar penggilingan padi didata yang baik. Tidak semua harus masuk Kostraling. Kalau pasca panen kita kalah, maka sulit kita bersaing di pasar ekspor,” tambahnya.

Data Litbang Pertanian menyebutkan, komposisi penggilingan padi berdasarkan skala usaha. Jumlah penggilingan padi kecil mencapai 68.386 unit atau 62,96 persen dari total penggilingan beras di Indonesia sebanyak 108.612 unit. Tingkat rendemennya hanya 55,71 persen dan kualitas beras kepala 74,25 persen.

Jumlah penggilingan besar sebanyak 5.133 unit (4,73 persen). Tingkat rendemennya mencapai 61,48 persen dan kualitas beras kepala 82,45 persen. Adapun penggilingan padi skala sedang sebanyak 35.093 unit (33,31 persen), dengan rendemen 59,69 persen dan kualitas beras kepala 75,73 persen.

Berdasarkan hasil sensus BPS, kehilangan hasil di penggilingan mencapai 2,89 persen. Mengapa masih tetap tinggi? Penyebabnya, penggilingan padi di Indonesia didominasi penggilingan kecil yang kapasitasnya di bawah 1.000-1.500 kg per jam.

Penggilingan padi kecil ini teknologinya sudah lama, rata-rata banyak yang satu fase. Artinya antara husker (pengupas/pemecah kulit) dan polisher (pengkilap) jadi satu tanpa melalui separator. Dengan demikian harus ada upaya merevitalisasi penggilingan padi.

 

2 Alasan Pertanian Penting

Pada kesempatan tersebut, Syahrul menyebut setidaknya ada dua alasan mengapa pertanian sangat penting. Pertama, pertanian merupakan sumber lapangan kerja jutaan penduduk Indonesia. Kedua, pertanian sudah menjadi bagian hidup bangsa Indonesia. "Kita tidak boleh main-main dalam kelola pertanian, karena menyangkut 264 juta penduduk Indonesia. Jadi sangat penting kita kelola pertanian," pesan Syahrul kepada Dinas Pertanian.

Karena itu, Syahrul menegaskan, jika ada Gubernur atau Bupati yang tidak memperhatikan pertanian, maka mereka telah mengabaikan lapangan kerja. Padahal lapangan kerja yang pasti ada di pertanian. "Semua itu ada di tanganmu. Kalau kamu mau angkat gengsi rakyat dan perbaikan ekonomi daerah, kontribusi terbesar ada di pertanian. Begitu juga kalau kamu mau menyelesaikan kemiskinan, solusinya itu memperbaiki pertanian," tegasnya.

Alasan kedua mengapa pertanian penting adalah penduduk dan rakyat Indonesia sudah terbiasa dengan pertanian. Saat ini tinggal bagaimana kita menyiasati dan perkuat pertanian. "Negara kita tropis, matahari terbit 2 jam, air mengalir banyak. Jadi potensi daerah besar, ada gunung, bukit dan dataran rendah yang semuanya bisa ditanami," ujarnya.

Dengan pentingnya pertanian tersebut, Syahrul meminta kepada pemerintah daerah, terutama Dinas Pertanian untuk bersama-sama mengurus pertanian. Bahkan mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu juga meminta untuk menyampaikan langsung segala persoalan yang ada di daerah kepada dirinya. "Tapi ingat, saya tidak suka orang bohong, dan korupsi. Jadi sampaikan yang benar," tegasnya.

Syahrul juga meminta Dinas Pertanian untuk lebih mendorong dan mengajarkan petani cara memecahkan masalah sendiri. Jadi jangan setiap saat pemerintah yang membantu memecahkan persoalan di daerah. "Kalau semua tergantung pemerintah, pembangunan pertanian tidak akan bisa akselerasi dengan cepat," ujarnya. Yul/Ditjen PSP

 

Tue, 28 Jan 2020 @13:58


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved