saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
SLINK
HISTATS

KUR dan Era Baru Pengadaan Alsintan

image

“Kita harus mengubah paradigma pembangunan pertanian,” Demikian penegasan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat Rapat Kerja Ditjen Tanaman Pangan di Depok, beberapa waktu lalu.

Apa perubahan paradigma yang bakal dilakukan? Syahrul mengibaratkan sebagai sebuah piramida. Peran pemerintah berada di bagian bawah piramida sehingga porsinya paling besar. Sedangkan petani dan pelaku usaha bagian atas, sehingga perannya kecil.

Piramida itu yang akan dibalik menteri yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan itu. Dengan membalik piramida, sehingga peran pemerintah menjadi lebih kecil ketimbang petani dan pelaku usaha. “Kalau semua tergantung pemerintah, akselerasi pembangunan pertanian tidak akan bisa cepat,” tegasnya.

Untuk itu Syahrul mengajak Pemerintah Daerah membiasakan dan mendorong petani bisa memecahkan masalahnya sendiri dengan memberikan asistensi. Tak terkecuali dalam pengadaan alat mesin pertanian (alsintan). “Kalau kita terus membagi-bagikan traktor, berapa banyak yang harus kita bagi? Kalau rusak sedikit, sudah jadi barang bekas, karena petani tidak bisa memperbaiki,” tuturnya.

Karena itu ke depan Syahrul berharap dalam pengadaan alsintan petani bisa melakukan sendiri tanpa bantuan pemerintah. Menurutnya, pemerintah hanya membantu mengintervensi, seperti kemudahan mendapatkan kredit. Salah satunya adalah menurunkan suku bunga Kredit Usaha Tani (KUR) dari 12 persen menjadi 6 persen.

Pemerintah kata Syahrul, sudah menyiapkan anggaran sebanyak Rp 50 triliun untuk mensubsidi bunga KUR. Bagi petani yang ingin memanfaatkan KUR untuk modal, nanti bisa melalui Kelompok Tani yang berkoordinasi dengan Kostratani.

Direktur Pembiayaan Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Indah Megahwati menambahkan, guna menciptakan rasa memiliki alsintan dan meningkatkan kesejahteraan petani, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengalokasikan dana KUR sebesar Rp 50 triliun untuk petani. “Menteri Pertanian berharap, petani Indonesia mandiri dan sejahtera, dengan memiliki modal yang cukup untuk bertanam, alsintan, benih, pupuk dan prasarana dan sarana lainnya,” katanya.

Bahkan khusus alsintan, ungkap Indah, Menteri Pertanian ingin petani menggunakan alsintan untuk bertanam dan merawatnya karena rasa memiliki. Apalagi petani mendapatkan alsintan bukan karena bantuan, tapi dengan cara membeli sendiri. “Agar petani tidak merasa terbebani dalam pembelian alsintan, KUR menjadi salah satu solusi yang tepat untuk membantu permodalan,” ujarnya.

Data hingga November 2019, sebanyak Rp 30,4 triliun dana KUR sektor pertanian sudah tersalurkan. Sedangkan untuk tahun 2020, pemerintah mengalokasikan dana KUR untuk sektor pertanian sebesar Rp 50 triliun. Rinciannya sub sektor tanaman pangan Rp 14,23 triliun, hortikultura Rp 6,39 triliun, perkebunan Rp 20,37 triliun, dan peternakan Rp 9,01 triliun.

Kementan menargetkan alokasi dana KUR pada tiga bank plat merah yakni Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebesar Rp 20 triliun, Bank Negara Indonesia (BNI) Rp 20 triliun, dan Rp 10 triliun di Bank Mandiri. “Mentan saat ini sedang berjuang agar yang sebelumnya terkena bunga komersil dibuat tidak komersil atau bunganya masuk ke 6%. Selama ini bunga 6% masuk kategori komersil. Padahal kan kalau untuk beli traktor atau ekskavator dibutuhkan dana besar,” tutur Indah.

Karena itu menurut Indah, Mentan sedang memperjuangkan KUR dan meminta supaya bunga KUR dikurangi dari 7% menjadi 6%. Begitu juga untuk plafon pinjaman, untuk skala usaha mikro yang sebelumnya Rp 25 juta menjadi Rp 50 juta. Sedangkan untuk mikro kecil hingga Rp 500 juta. Untuk menengah atau komersil mencapai Rp 1-2 miliar.

 

Lembaga Penjamin

Indah mengakui, sebagai perusahaan komersil, pihak perbankan juga ingin dana pinjaman mereka aman dalam pengembaliannya atau kreditnya lancar. Karena itu pihak bank membutuhkan jaminan setiap dana pinjaman mereka keluarkan. Padahal di sisi lain petani kadang tidak mempunyai jaminan.

Kondisi itu yang menurut Indah membuat petani selama ini terjerat pinjaman rentenir. Sebab, petani yang meminjam ke rentenir lebih mudah dan tanpa jaminan. Tapi setelah panen, petani tidak bisa merasakan keuntungan karena hasilnya harus membayar ke rentenir dengan bunga tinggi.

“Nah sekarang bunga KUR hanya 6%. Bagaimana petani bisa ikut KUR, tapi tanpa agunan, maka harus ada off taker/avalist yang berfungsi sebagai penjamin. Nanti ketika panen hasilnya ditangani off taker untuk kemudian diberikan ke bank sesuai dengan kredit,” papar Indah.

Menurut Indah, jika kalau tidak ada off taker, maka belum tentu bank akan menerima pengajuan KUR. Jadi off taker nantinya sebagai penyalur yang juga memasarkan hasil produksi petani. Nanti sebagian hasilnya dibayarkan kreditnya ke bank, sebagian dibagi hasil dengan petani. “Petani pun harus ada komitmen hasil panen petani harus diserahkan ke off taker,” ujarnya.

Nantinya ungkap Indah, yang diberikan off taker pada petani bukan berupa uang, melainkan sarana produksi pertanian (saprotan) dan alsintan, dan sebagian berupa uang tunai untuk biaya hidup petani. “Cara ini dilakukan karena dikhawatirkan kalau diberikan dalam bentuk uang, tidak digunakan untuk usaha tani, melainkan untuk kebutuhan lain, sehingga bisa mengakibatkan kredit macet,” tuturnya.

Siapa yang menjadi off taker? Indah mengungkapkan, bisa saja off taker berasal dari perusahaan penggiling padi, pemerintah daerah atau siapa pun. Nanti off taker akan menjembatani Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara petani dengan bank.

Soal persyaratan mengajukan KUR, Indah berharap, jika nilai hanya Rp 25 juta, maka petani cukup mengajukan KUR dengan foto kondisi lahan, KTP, Kartu Keluarga, surat rekomendasi dari kepala dinas/kostratani/BPP. Dengan syarat tersebut diharapkan mencairkan KUR dari perbankan bisa lebih mudah.

Jika petani ingin mengajukan KUR, Indah menyarankan agar petani berkonsultasi ke penyuluh atau pun ke dinas pertanian. “Petani bisa konsultasi dulu ke dinas pertanian. Dinas pertanian akan memberi rekomendasi bahwa kelompok tani ini memang benar-benar berusaha tani. Sudah berjalan sekian lama dan hasilnya sekian banyak,” tuturnya. (Tabloid Sinar Tani/Tia/Yul/Ditjen PSP

Tue, 28 Jan 2020 @14:09


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved