saranatanijakarta.com
RSS Feed
Welcome
image

MARDIOTO

0813-9863-5779 (WA/Call); 0895-3756-39991


SARANA TANI JAKARTA
Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan
Jakarta Selatan (Tabloid Sinar Tani)
AGEN PENJUALAN:
CIREBON Ibu Hj. Kartini (089660329948 (Call/WA)
KUNINGAN Septian 085295591920 (WA/Call)
Email: saranatanijakarta@yahoo.com
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

Arsip
SLINK
HISTATS

Artikel (49)

Keywords: gabah kedelai

Draminski GMM

image

Draminski GMM Grain Moisture Meter, alat ukur kadar air biji-bijian made in Polandia

selengkapnya...

Tue, 28 Jan 2020 @14:27

Peran Kostratani dalam Penyerapan KUR Rp 50 Triliun Tahun 2020

Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah kredit/pembiayaan modal kerja dan/atau investasi kepada debitur baik individu/perseorangan atau badan hukum yang melakukan usaha produktif dan layak namun belum memiliki agunan tambahan atau agunan tambahan belum cukup baik dengan suku bunga pada tahun 2020 sebesar 6% efektif per tahun.

selengkapnya...

Tue, 28 Jan 2020 @14:26

KUR dan Era Baru Pengadaan Alsintan

image

Kita harus mengubah paradigma pembangunan pertanian. Demikian penegasan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat Rapat Kerja Ditjen Tanaman Pangan di Depok, beberapa waktu lalu.

selengkapnya...

Tue, 28 Jan 2020 @14:09

Produksi Padi Dikerek 7 Persen

Kementerian Pertanian menargetkan peningkatan produksi padi sebesar 7 persen pertahun. Di sisi lain, kehilangan hasil panen diturunkan dari 12 persen menjadi 5 persen.

selengkapnya...

Tue, 28 Jan 2020 @13:58

Optimalisasi Lahan, Tanam Jagung di Areal Peremajaan Sawit

image

Optimalisasi lahan menjadi salah satu program pemerintah memanfaatkan potensi keterbatasan lahan. Salah satu kegiatan optimalisasi lahan adalah dengan integrasi budidaya tanaman pangan dan perkebunan. Misalnya jagung dan kelapa sawit.

selengkapnya...

Tue, 17 Dec 2019 @11:04

Teknologi Pendukung Kostratani

image

Era 4.0 tak bisa dihindari. Karena itu sektor pertanian pun dituntut bisa menyesuaikan dengan teknologi terkini. Begitu juga dalam penggunaan informasi teknologi dalam pembangunan pertanian.

selengkapnya...

Tue, 17 Dec 2019 @10:52

Deteksi Hara dengan Smart Soil Sensing Kit

image

Kit soil tester ini adalah teknologi terbaru dari Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang bisa digunakan untuk deteksi hara dan keperluan pupuk yang cepat dan murah.

selengkapnya...

Wed, 11 Dec 2019 @15:06

Hari Perkebunan ke-62 Korporasi Perkebunan Rakyat

image

Tanggal 10 Desember menjadi hari bersejarah bagi dunia perkebunan nasional. Pada tanggal tersebut telah ditetapkan sebagai Hari Perkebunan Nasional. Pada tahun ini, peringatan Hari Perkebunan ke-62 akan berlangsung di Kampus Polbangtan Malang, Jawa Timur.

selengkapnya...

Wed, 11 Dec 2019 @14:52

Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi Lima Lokasi Jadi Model

image

Program mekanisasi pertanian menjadi salah satu upaya pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian mendorong petani untuk lebih modern dalam berusaha tani. Untuk itu bantuan alat mesin pertanian (alsintan) pun digelontorkan ke petani.


Guna memaksimalkan bantuan alsintan tersebut, Kementerian Pertanian mendorong petani membentuk korporasi berbasis mekanisasi. Setidaknya ada lima kabupaten yang menjadi uji coba Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi (PKBM).


Ketua Tim Kerjasama Kementerian Pertanian dan Perhimpunan Teknik Pertanian Indonesia (Perteta), Suprapti mengakui, kelemahan dalam pemberian bantuan alsintan kepada petani adalah penggunaannya belum maksimal. Karena itu, petani perlu diberikan pendampingan dan pengawasan dalam pemanfaatan.


“Hasil audit BPK dan Itjen Kementan tingkat pemanfaatan alsintan bantuan pemerintah memang belum optimal. Banyak alsintan yang sudah pemerintah bagikan ke petani, tapi kalau dikelola perorangan akan ada kesulitan dalam pemeliharaan dan perbaikan jika rusak,” katanya kepada Tabloidsinartani.com di Jakarta, Jumat (29/11).


Untuk menjawab hal itu lanjut Suprapti, sejak tahun 2018 lalu, Kementerian Pertanian bersama Perteta membuat program percontohan Pertanian Korporasi Berbasis Mekanisasi (PKBM). Bentuk percontohan salah satunya adalah membangun warehouse (gudang) alsintan. “Perteta membantu membuat desain warehouse dan pengawalannya selama tiga tahun,” ujarnya.


Anggaran pembangunan warehouse tersebut sudah dialokasikan dalam APBN TA 2019 Kementerian Pertanian. Ada lima kabupaten yang menjadi lokasi percontohan yakni Tuban (Jawa Timur), Sukoharjo (Jawa Tengah), Ogan Komiring Ilir/OKI (Sumatera Selatan), Konawe Selatan (Sulawesi Selatan) dan Barito Kuala/Batola (Kalimantan Selatan).


Warehouse tersebut nantinya dikelola Unit Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA). Di Tuban, PKBM akan dikelola UPJA Tani Karya Mandiri yang berlokasi di Kecamatan Rengel. Di Sukoharjo dikelola UPJA Bagyo Mulyo yang berada di Desa Dalangan. Sementara di OKI dikelola KUB Lempuing Jaya Berkarya di Kecamatan Lempuing Jaya. Di Batola oleh UPJA Selidah di Kecamatan Jejangkit, dan di Konawe Selatan dikelola UPJA Mendidoha.


Warehouse tersebut berfungsi untuk menyimpan dan pemeliharaan alsintan. Di dalamnya juga terdapat bengkel dan peralatan untuk perbaikan alsintan, sarana pengisian bahan bakar minyak (BBM), tempat pencucian alsintan, juga ada kios pupuk dan benih.


Pengurus UPJA tersebut nantinya yang mengelola alsintan, terutama pemeliharaan. Jika petani mau meminjam alsintan, pengurus UPJA harus memastikan alsintan siap untuk dipakai. “Bahkan alsintan tersebut sudah bersih dan terisi penuh BBM, karena di warehouse tersedia fasilitas pencucian alsintan dan pengisian BBM,” tuturnya.


Alasan pemilihan UPJA tersebut ungkap Suprapti, adalah berdasarkan hasil survei. Salah satu kriterianya adalah kelompok tani yang mau ikut program tersebut, mampu menerapkan inovasi teknologi dan areanya cukup luas minimal 1.000 hektar (ha). Kriteria lainnya adalah kelompok tani sudah berjalan dengan baik, tapi mengalami kesulitan fasilitas.


 


Basis IT


Suprapti berharap, ke depan layanan di warehouse PKBM sudah melalui teknologi informasi, termasuk penggunaan aplikasi UPJA Smart Mobile yang telah dibuat Balai Besar Mekanisasi Pertanian (BB Mektan). “Kita sudah melatih operatornya. Kita rekrut generasi muda yang menjadi pengelola warehouse tersebut, karena mereka akan lebih mudah mengerti,” tegasnya.


Bahkan dengan basis IT, tidak ada pengurus PKBM yang memegang uang. Sebab menurut mantan Direktur Alsintan ini, berdasarkan pengalaman banyak kelembagaan petani yang awalnya sudah maju, tapi karena pengurusnya memegang uang justru lembaga petani tersebut malah bubar. “Dengan berbasis IT semua laporan keuangan lebih accountable,” ujarnya.


Suprapti juga menilai dengan adanya PKBM banyak keuntungan yang bakal petani dapatkan. Misalnya, usaha pertanian akan dilakukan secara kolektif oleh petani, termasuk dalam penyediaan sarana produksi pertanian (saprodi). Dengan kolektif, harga saprodi menjadi lebih murah.


“Petani diuntungkan dengan kemudahan mendapatkan pupuk subsidi. Juga penyediaan bibit untuk rice transplanter yang dibuat dalam sistem tray,” ujarnya. Bukan hanya itu, bagi Gapoktan juga bisa mendapatkan usaha baru seperti pengadaan bibit (penangkar) dalam tray untuk petani


Ke depan Suprapti mengatakan, di lokasi percontohan PKBM akan ada kemudahan dalam mendapatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar kegiatan usahanya berkembang. Misalnya, di PKBM akan ada juga usaha penggilingan padi yang menjadi offtaker (penampung) gabah petani.


“Petani nanti bisa sistem yarnen (bayar setelah panen). Jadi saat berusaha tani, seperti meminjam alsintan, penyediaan bibit dan pupuk dari PKBM, kemudian pembayarannya setelah panen,” tuturnya.


Dengan adanya PKBM, Suprapti berharap, akan tumbuh kemandirian kelompok tani dalam berusaha tani. Contohnya di Tuban, Gapoktan yang telah mendapatkan bantuan alsintan dari pemerintah kini perputaran uangnya sudah mencapai Rp 100 juta dari hasil penyewaan alsintan.


Kemandirian petani memang menjadi satu harapan pemerintah. Petani tak lagi selalu berharap dari bantuan pemerintah. Tabloid Sinar Tani/Yul/Ditjen PSP

Mon, 9 Dec 2019 @13:48

Budidaya Kacang Hijau Patut Dilirik

image

Kacang hijau menjadi komoditas tanaman pangan yang selama ini masih kurang mendapat perhatian. Namun sebenarnya potensi pasarnya cukup besar, sehingga peluang usaha tani cukup menarik untuk digeluti petani.

selengkapnya...

Mon, 9 Dec 2019 @13:44

Mesin Penyosoh Beras Mini Pendapatan Petani Naik Tiga Kali

image

Inovator mesin penyosohan beras mini One Krisnata, mesin tersebut diberinama Krisnata Rice Mill. Mesin penyosohan padi mini berkapasitas 2 ton/hari ini tidak menimbulkan pencemaran udara karena dilengkapi penyerap limbah dan debu.


“Mesin ini 100% produksi dalam negeri yang dapat dikerjasamakan produksi dan perakitannya dengan SMK Teknik setempat sehingga harga mesin dapat lebih murah,” katanya.


Krisnata mengatakan, beberapa keunggulan mesin penyoson beras mini ini bersifat mobile (dirancang dapat ditarik dengan sepeda motor) dan mudah dioprasikan, serta tidak memerlukan tempat atau ruang khusus yang luas. Mesin ini sangat diperlukan kelompok tani untuk mengolah gabah hasil panen menjadi beras seger dan sehat secara swadaya dan mandiri.


Dengan mesin penyosoh mini ini, Krisnata berharap, setelah panen kelompok tani tidak menjual gabah ke penebas tapi mengolah gabah menjadi beras secara mandiri dan menjual produk berupa beras sehingga keuntungan berlipat.


“Dengan pengelolaan mesin penyosohan padi mini, kelompok tani dapat mengembangkan usaha ekonomi kerakyatan dipedesaan. Petani dan konsumen beras sama-sama diuntungkan,” tuturnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana yang menyaksikan langsung demo dan meneliti keberadaan Krisnata Rice Mill mengatakan, mesin sejenis ini sudah beredar di lapangan, tapi buatan Jepang dan China serta harga lebih mahal.


Sedangkan Krisnata Rice Mill disamping sudah memperoleh sertifikat uji kelayakan, harga relatif murah. Kelebihan lainnya adalah produk dalam negeri juga inovatif, karena dirancang dapat ditarik dengan sepeda motor dan ringan.


“Jenis ini baru pertama kali ada di Indonesia. Kami berharap dapat dibantukan oleh Dinas Pertanian kab/kota kepada kelompok-kelompok tani, sehingga petani tidak tergantung dengan penebas dan penyosohan beras besar,” katanya. (Tabloid Sinar Tani/Kontributor/Yul/Ditjen PSP)

Mon, 9 Dec 2019 @13:35

PERAGI Siap Dampingi Petani dalam Modernisasi Pertanian

image

Pemberdayaan petani dan modernisasi pertanian menjadi persoalan tersendiri bagi pertanian di Indonesia. Kedua hal tersebut menjadi fokus yang bakal mendapat perhatian penting dari PERAGI (Perhimpunan Agronomi Pertanian).


Ketua Umum PERAGI, Prof. Andi Muhammad Syakir menilai, selama empat tahun terakhir Kementerian Pertanian telah berhasil meletakkan landasan yang sangat kuat untuk membangun pertanian modern di masa depan. Fakta tersebut menunjukkan inovasi Kementerian Pertanian yang diarahkan pada pertanian modern telah memberikan manfaat nyata terhadap pelaku usaha pertanian di daerah.


Namun upaya pemberdayaan petani dari sisi peningkatan keterampilan dan penguatan permodalannya, masih belum mendapat porsi pembinaan yang memadai. Upaya-upaya pendampingan untuk petani oleh penyuluh dan pendamping masih perlu ditingkatkan, agar petani dapat mengaplikasikan inovasi teknologi secara lebih efektif dan efisien.


“Sehingga salah satu prioritas program Pengurus PERAGI tahun 2019-2022 kali ini adalah pendampingan dan pemberdayaan petani. Sebab jika ingin survive dan unggul ke depan, maka butuh modernisasi dan SDM yang mengelolanya," kata Prof. Syakir saat Pelantikan Pengurus Pusat (2019-2022), Workshop dan Rapat Kerja "Peran Aktif PERAGI dalam Pemberdayaan Petani dan Modernisasi Pertanian di Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun), Bogor, Rabu (4/12).


 


Saling Sinergi


Karenanya, ungkap Prof. Syakir, arah baru PERAGI harus bisa mengimplementasikan agronomi. Misalnya, pembinaan dan orientasinya tak hanya masyarakat kecil, tetapi juga pengusaha sehingga terjadi sinergi antara keduanya.


"Bisa dilihat juga program besar Kementan yang menitikberatkan pada pemberdayaan petani melalui Kostratani. Hal tersebut seiring dengan semangat PERAGI yang secara nyata mampu memberikan sumbangan terhadap peningkatan pendapatan petani dan devisa negara. PERAGI akan mampu bersinergi dengan SDM yang dimiliki yang tersebar di seluruh Indonesia," katanya.


Saat ini kiprah PERAGI semakin terbantu dalam mengakselerasi penciptaan teknologi dalam bidang agronomi, sejak Kementerian Pertanian mencanangkan pertanian modern. Peningkatan daya saing komoditas pertanian menjadi salah satu fokus PERAGI karena merupakan prasyarat penting untuk bersaing dengan negara lain.


Terkait daya saing, PERAGI akan berperan melalui pengembangan teknologi budi daya yang dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, sehingga selain dapat mendorong produktivitas juga dapat meningkatkan pendapatan petani.


Semangat pemberdayaan petani untuk modernisasi juga disambut baik pelaku usaha pertanian yang juga menjadi anggota Bidang Pemberdayaan Petani dari PERAGI, Iriana Ekasari. Menurutnya, PERAGI akan berperan dalam pemberdayaan masyarakat. Khususnya yang berkaitan dengan pertanian, petani dan masyarakat umum yang menggunakan produk pertanian.


"Kita melihat ketersambungan petani melalui produknya dan pemanfaatan langsung akan memiliki nilai tambah yang besar bila difokuskan pada pemberdayaan masyarakat tersebut," tuturnya.


Apalagi, permasalahan utama bangsa ini adalah lapangan kerja. "Saya melihat lapangan kerja bisa diciptakan dalam bentuk UKM dan peran pemberdayaan masyakarat menjadi strategis. Yaitu, bagaimana produk pertanian kita berkiprah di penyediaan kehidupan masyarakat," tuturnya.


Sementara itu, petani milenial sukses yang menjadi anggota termuda di PERAGI, Sandi Octa Susila. Ia menilai, masuknya pelaku usaha dalam PERAGI bisa mengakselerasi inovasi dan gagasan dari peneliti dan akademisi ke dunia usaha dan industri. Bidang pemberdayaan ini menjadikan adanya link and match antara dunia lapangan dengan peneliti/akademisi. Bahkan bisa mengakselerasi lebih cepat.


“Sekarang memang belum optimal (link and match). Contohnya, ada inovasi baru yang dikelola PERAGI, belum bisa terdiseminasi dengan baik dengan dunia usaha dan petani. Sehingga masuknya kami (pelaku usaha) bisa mengakselerasinya kepada petani," harapnya.(Tabloid Sinar TAni/Gsh/Yul)

Mon, 9 Dec 2019 @13:26

1 2 3 4 5 »

Copyright © 2020 PT SITEKNO · All Rights Reserved